Rabu, 01 Februari 2017

ISLAM, TOA DAN TERORISME

Di penghujung bulan Juli lalu Kota Tanjung Balai Asahan membara. Sekitar 6 rumah ibadah (vihara dan klenteng) dibakar oleh massa islam yang marah karena merasa agamanya dilecehkan. Peristiwa ini berakar pada TOA. Seperti yang sudah diketahui publik, menjelang shalat isya, seorang perempuan Tionghoa bernama Meliana (41 tahun) meminta agar pengurus masjid Al Maksum yang ada di lingkungannya mengecilkan volume TOA tersebut.
Sesudah shalat isya, sejumlah jemaah dan pengurus masjid mendatangi rumah Meliana. Ia dan suaminya kemudian dibawa ke kantor lurah ( bayangkan, 2 orang minoritas, China pula, berada di tengah gerombolan jemaah islam). Suasana memanas sehingga kedua orang itu akhirnya “diamankan” ke Polsek Tanjung Balai Selatan. Tak lama sesudah itu terjadilah aksi anarki.
Semuanya berawal dari TOA. Ada apa dengan TOA? Tentulah semua orang sudah tahu jawabannya. Suara TOA sangat membisingkan. Ibu Meliana merasa terganggu dengan suara-suara yang keluar dari TOA itu. Mungkin bukan cuma ibu Meliana saja. Ada orang lain juga yang merasa terganggu, tetapi baru Ibu Meliana yang berani meminta pengurus mengecilkan volume TOA. Mungkin, setelah peristiwa ini umat agama lain tidak mau ambil resiko, karena terbukti niat baik melahirkan malapetaka. Dan tanpa disadari, umat islam telah mencoreng agamanya sendiri. Saya tak tahu apakah umat islam menyadari semua hal ini atau tidak.
Saya melihat keberadaan TOA ini tak jauh bedanya dengan teroris. Malah, dalam satu titik, keduanya bisa disamakan. Sebagaimana teroris menganggu ketenangan, demikian pula TOA. Ia sungguh menggangu orang yang membutuhkan ketenangan. Suara yang keluar dari TOA sungguh sangat membisingkan.
Masalah TOA sebenarnya bukan baru ada saat rusuh melanda Tanjung Balai Asahan. Dan bukan juga berarti setelah kerusuhan itu reda, masalah itu pun hilang. Pada bulan Juni 2015 lalu Wakli Presiden Jusuf Kalla pernah melarang masjid memutar kaset mengaji karena menyebabkan “polusi suara”. Jelas, yang dimaksud polusi itu adalah kebisingan yang dilahirkan dari TOA. Hingga kini pun masalah TOA itu masih ada.

Jumat, 27 Januari 2017

Tempat Penyaliban Yesus: Golgota atau Kalvari?

Orang islam sering mengatakan bahwa dalam kitab suci orang kristiani ada banyak ditemui pertentangan. Mereka kemudian menilai, bahkan mempertanyakan dan meragukan, nilai sebuah kitab suci tersebut. Bagi mereka, karena disebut kitab suci, dimana sumbernya dari Allah, haruslah tidak mengandung pertentangan. Jika terdapat pertentangan, “kitab suci” itu bukan berasal dari Allah, melainkan buatan manusia.
Salah satu pertentangan yang muncul dalam kitab suci adalah istilah atau nama tempat dimana Tuhan Yesus disalibkan. Memang semua sepakat bahwa Tuhan Yesus disalibkan di sebuah bukit, namun ada kitab yang mengatakan bukit Kalvari, sementara kitab yang lain mengatakan bukit Golgota. Nah, bagaimana menjelaskan persoalan ini?
Tulisan “Tempat Penyaliban Yesus: Golgota atau Kalvari” memberi jawaban atas pertanyaan tersebut di atas. Secara tidak langsung tulisan ini menjawab juga permasalahan yang sering dipersoalkan oleh orang islam. Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang dilihat oleh orang islam sebenarnya bukanlah pertentangan, tapi perbedaan istilah akan satu obyek yang sama.
Karena itu, dengan membaca tulisan ini, pembaca dapat menemui jawaban atas dua persoalan. Lebih lanjut mengenai tulisan tersebut, silahkan baca sendiri di: Budak Bangka: Tempat Penyaliban Yesus: Golgota atau Kalvari?