Kamis, 11 Agustus 2022

KATEGORI KONSEP YANG UMUM PADA AKHIR MASA ANAK-ANAK

 

Tentu kita pernah melihat seorang anak kecil bersikap seperti biasa ketika ada salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia. Anak itu bermain seperti biasa. Tidak ada kesedihan dalam dirinya. Hal ini disebabkan karena anak belum memahami konsep kematian. Dalam bukunya PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth B. Hurlock membeberkan kategori konsep yang umum pada akhir masa anak-anak (hlm 164).

Kehidupan

Meskipun beberapa anak sulit untuk mengerti bahwa banyak hal yang bergerak – seperti sungai, misalnya – bukan merupakan sesuatu yang hidup, namun mereka semakin sadar bahwa gerakan bukanlah satu-satunya criteria dari kehidupan.

Kematian

Anak yang mengalami kematian anggota keluarga atau matinya hewan peliharaan, mempunyai pengertian yang baik tentang makna kematian, dan bobot emosi dari konsepnya tentang kematian diwarnai oleh reaksi-reaksi orang di sekitarnya.

Kehidupan setelah Mati

Konsep kehidupan setelah mati terutama bergantung pada perintah agama yang diterima anak dan pada apa yang diyakini oleh sesame temannya.

Fungsi-fungsi Tubuh

Sampai anak mulai mempelajari kesehatan di sekolah dasar, banyak konsep tentang fungsi tubuh yang kurang tepat dan kurang lengkap, terutama tentang fungsi tubuh internal.

Ruang

Rabu, 10 Agustus 2022

BERIMAN ITU HARUS SESUAI KEHENDAK ALLAH

 

Iman merupakan tanggapan pribadi atas sapaan Allah. Dengan beriman kita menyerahkan hidup kita seluruhnya ke dalam penyelenggaraan Allah. Sebagai umat-Nya kita diminta untuk taat dan berserah pada kehendak Allah, sekalipun kehendak-Nya itu bertentangan dengan keinginan diri. Ada banyak orang beriman kepada Allah ketika keinginannya terpenuhi. Sikap iman seperti ini seperti iman bersyarat; kita beriman dengan syarat keinginan kita terpenuhi.

Iman kepada Allah itu harus tanpa syarat. Inti iman ada pada kehendak Allah pada hidup kita, bukan pada kehendak pribadi kita. Karena itu, salah satu sikap iman adalah berserah diri. Hal ini terlihat dalam ungkapan iman Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Ada contoh menarik untuk menggambarkan sikap iman tanpa syarat ini. Sikap iman itu dapat kita lihat pada kisah Tiga Pemuda: Sadrakh, Mesakh, Abednego. Mereka beriman kepada Allahnya. Ketika mereka menolak titah raja untuk menyangkal iman mereka dengan cara menyembah dewanya sang raja, mereka menghadapi ancaman hukuman mati. Akan tetapi, mereka tidak takut dan meninggalkan imannya.

Banyak orang, demi alasan keamanan, melakukan titah sang raja. Dengan kata lain, mereka meninggalkan imannya. Mereka takut, karena jika mereka tetap beriman pada Alllahnya, mereka akan mati. Mereka tahu pasti bahwa Allah tidak dapat menolong atau menyelamatkan mereka dari hukuman mati. Hanya mengikuti perintah raja saja yang bisa meluputkan mereka dari kematian. Hal ini berarti dewanya sang raja yang menyelamatkan.

Berbeda dengan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka tahu dan sadar bahwa kesetiaan pada imannya tidak akan meluputkan mereka dari hukuman mati. Ketika Sang raja kembali memerintahkan mereka untuk menyembah dewanya, salah seorang dari ketiga pemuda itu berkata, “Jika Allah yang kami imani sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari hukuman ini. Namun jika tidak, hendaklah tuanku raja tahu, bahwa kami tidak akan beriman pada dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuan dirikan itu.”

Sadrakh, Mesakh dan Abednego memberi contoh beriman sesuai dengan kehendak Allah, bukan menurut keinginan dirinya. Sekalipun mereka akhirnya mati, mereka tetap setia pada imannya. Walau akhirnya mereka dijatuhi hukuman mati, mereka tidak meninggalkan imannya. Mereka tetap beriman pada Allah tanpa syarat.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 09 Agustus 2022

KEBENARAN ITU MEMBEBASKAN

 

Kebenaran adalah sesuatu yang paradoksal, selalu dirindukan bahkan diperjuangkan siapa pun, kapan dan di mana pun. Orang dapat mempertaruhkan segalanya asal menemukan kebenaran. Debat hukum di ruang pengadilan, entah dengan argumentasi yang rasional maupun bukan, semuanya bermuara ke upaya penemuan kebenaran.

Namun, ketika kebenaran tersingkap, apakah semua pihak menyukainya? Di situlah paradoksnya! Kebenaran menyembuhkan, juga melukai. Ia ibarat buah simalakama. Pihak yang yakin kebenaran akan menyembuhkan tak akan pantang mundur berupaya menemukannya.

Pihak yang takut bahwa kebenaran akan melukai akan berjuang dengan segala macam cara untuk mengurung kebenaran dalam ruang gelap, agar tersembunyi dan tidak tersingkap.

“Aletheia”

Ada hal yang menarik dari analisis semantik yang dilakukan Martin Heidegger tentang kebenaran. Ia menjelaskan, kebenaran dalam bahasa Yunani adalah aletheia – a (tidak) dan theia (tersembunyi). Kebenaran berarti tidak tersembunyi, apa adanya, tanpa embel-embel. Sesuatu dalam dirinya sebagaimana adanya (das Ding an sich).

Sesuatu itu benar kalau tampil apa adanya, tanpa pemalsuan, rekayasa, embel-embel yang malah menutup atau menyembunyikan kesejatian (autensitas) dari sesuatu itu. Sesuatu dalam kesejatiannya menjadi sesuatu yang objektif. Siapa pun akan melihat dan menemukannya sebagaimana dalam keadaannya yang sebenarnya.