Rabu, 23 Maret 2022

INILAH YANG PENGARUHI MINAT KEAGAMAAN PADA USIA DEWASA DINI

Manusia adalah makhluk religius. Salah satu wujud religiositas manusia adalah agama. Karena itu, sebagai makhluk religius, seseorang tentulah mempunyai agama. Kepemilikan agama ini berbeda-beda dari satu orang ke orang lain. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Untuk usia anak, agama itu lebih ditentukan oleh orangtua.

Sekalipun sudah mempunyai agama, bukan tidak mustahil minat pada agama itu selalu kuat. Pada poin ini pun, minat terhadap agama berbeda dari satu orang ke orang lain berdasarkan usia perkembangannya. Dalam PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth B. Hurlock, menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi minat keagamaan pada usia dewasa dini (hlm 258).

Seks

Wanita cenderung lebih berminat pada agama daripada pria dan juga lebih banyak terlibat aktif dalam ibadat dan kegiatan-kegiatan kelompok agama.

Kelas Sosial

Golongan kelas menengah sebagai kelompok lebih tertarik agama dibandingkan dengan golongan kelas yang lebih tinggi atau yang lebih rendah; orang lebih banyak ambil bagian dalam kegiatan gereja, misalnya, dan banyak yang duduk dalam kepengurusan organisasi keagamaan. Orang-orang dewasa yang ingin terpandang dalam masyarakat lebih giat dalam organisasi-organisasi keagamaan dibandingkan dengan orang-orang yang sudah puas dengan status mereka.

Lokasi Tempat Tinggal

Selasa, 22 Maret 2022

AKUI SAJA KALAU ISIS ITU ISLAM

KOMPAS, 14 Maret 2015, menampilkan tulisan Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal. Judul tulisannya adalah “NIIS, Khawarij, dan Terorisme”. Tulisan menarik ini bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama islam. Sebenarnya pembelaan ini sudah banyak kali muncul, semenjak kehadiran kelompok teroris Al Qaeda. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam tulisan tersebut.

Akan tetapi, tulisan tersebut, sebagaimana tulisan-tulisan lain yang sejenis, masih menyisahkan kebingungan. Satu hal yang membuat bingung akhirnya melahirkan pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Selain kebingungan, dalam tulisan Mustafa terdapat satu hal, yang bagi saya, terkesan lucu.

Dikatakan lucu karena, untuk membela agama islam, Mustafa malah semacam melemparkan persoalan radikalisme ini kepada penganut agama lain. Ali Mustafa menulis, “Sebab, terorisme dapat datang dari pemeluk agama mana saja…” Argumentasi ini mirip seperti argumen seorang anak yang kedapatan menyontek saat ujian. Ketika ditanya gurunya, ia berkata, “Orang lain juga nyontek, koq!”

Pernyataan Mustafa ini terkesan menutupi persoalan utama: kaitan agama islam dan terorisme. Memang penulis mengatakan bahwa sejatinya terorisme tak ada kaitannya dengan agama. Tapi, benarkah demikian?

Pernyataan Mustafa di atas perlu dikritisi. Tak bisa dipungkiri bahwa pernyataan itu benar: terorisme bisa muncul dari pemeluk agama mana saja (harap bisa bedakan antara agama dan pemeluk agama). Terorisme bisa dilakukan oleh pemeluk agama Islam, Kristen, Buddha dan lainnya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa landasan terorismenya berbeda. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok islam dilandasi pada ajaran agamanya. Ada banyak buku yang menyatakan hal ini, seperti Sejarah Teror dan Kudeta Mekkah. Karena itu, sekitar bulan September 2013 lalu, Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah untuk membakar Al Quran, karena kitab itu dinilai menciptakan radikalisme yang mengarah pada terorisme. Berbeda dengan pemeluk agama lain. Jika orang Kristen atau Buddha melakukan terorisme, bisa dipastikan mereka melanggar ajaran agamanya, karena tidak ada ajaran untuk melakukan hal itu.

Senin, 21 Maret 2022

MARI BELAJAR DARI SANTO YOSEF

Kita sudah kenal sosok Santo Yusuf. Dia adalah tukang kayu. Sebagai tukang kayu, ia menggantungkan hidupnya pada orang lain yang memanfaatkan jasa pelayanannya. Itu terletak pada hasil kerjanya. Jika hasil kerjanya tidak bagus, mungkin karena dikerjakan dengan tidak bertanggung jawab, tentulah orang akan meninggalkannya. Sebaliknya jika hasil kerjanya bagus memenuhi harapan orang, tentulah orang akan setia padanya. Dan itu terletak pada kinerjanya. Dan itulah sosok Santo Yusuf, suami Maria dan ayah dari Tuhan Yesus.

Hari ini Gereja Katolik merayakan sosok tersebut. Sebagaimana biasanya, salah satu tujuan Gereja menetapkan hari raya atau peringatan orang kudus adalah agar umat menimba teladan iman mereka. Satu teladan yang mau diberikan Santo Yusuf untuk kehidupan kita adalah sikap mendengarkan.

Kalau kita baca Injil Matius 1: 18 – 24 (yang menjadi bacaan liturgi Hari Raya St. Yusuf), dikatakan bahwa Santo Yusuf sudah sampai pada keputusan untuk meninggalkan Maria. Alasannya adalah karena Maria sudah hamil, padahal mereka belum resmi menjadi suami istri. Kita bisa tahu apa akibatnya jika mereka tidak jadi menikah, sementara Maria lagi hamil. Tentulah publik akan menuduh Maria telah berbuat zinah. Dan kita tahu apa hukuman bagi orang yang berbuat zinah: Mati dengan cara dirajam.

Tapi semua itu tidak terjadi karena akhirnya Yusuf kembali menerima Maria menjadi isterinya. Ini disebabkan karena Yusuf mau mendengarkan suara Tuhan dalam mimpinya. Dan di sinilah letak keutamaan Yusuf: mendengarkan, bukan hanya suara dirinya sendiri melainkan suara yang berasal dari luar dirinya.