Jika kita mencermati argumen-argumen umat islam di media sosial, umumnya kita dapat menemukan satu ciri khasnya, yaitu argumen tanpa nalar. Kebanyakan argumen yang dibangun sungguh di luar akal sehat sehingga bagi yang masih mempunyai akal budi hal tersebut terasa tak masuk akal. Misalnya, argumentasi soal keaslian tulisan. Dalam sebuah tulisan ada seorang menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga keasliannya, sedangkan Alkitab tidak. Dasar keasliannya adalah reaksi umat; jika ada amuk massa, maka tulisan itu asli, tapi jika tidak maka tulisan tersebut palsu.
Tentulah argumentasi tersebut sangat
dangkal dan lemah. Akan tetapi, sepertinya sudah menjadi ciri khas islam bahwa
kebenaran ditentukan juga dengan kekerasan (amuk massa). Hal ini ditegaskan pula
dalam salah satu hadis terpercaya, dimana dikatakan bahwa Allah SWT mendukung
agama melalui orang yang berhati culas kejam. Karena itulah, islam selalu
diidentikkan dengan radikalisme dan terorisme.
Sebuah Kebenaran
Patut diakui bahwa jika Al-Qur’an diubah-ubah
atau dipalsukan pastilah akan menimbulkan reaksi besar, bukan saja di Indonesia
melainkan seluruh dunia. Umat islam akan marah, protes dan melakukan tindakan
anarki lainnya. Berbeda dengan Injil atau Kitab Suci orang kristen. Akan
tetapi, apakah kemarahan, protes dan tindakan anarki merupakan tolok ukur
keaslian tulisan?
Harus disadari juga bahwa reaksi marah, kekerasan bahkan sikap anarkis umat islam ini bukan hanya muncul bila terjadi sesuatu pada Al-Qur’an yang tidak benar, melainkan juga pada atribut agama. Misalnya, jika ada “pelecehan” atau informasi yang tidak disukai berkaitan dengan Nabi Muhammad, maka umat islam seluruh dunia akan demo, protes, marah bahkan bertindak brutal. Tentu kita masih ingat akan kasus pembakaran buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” oleh Toko Buku Gramedia pada 14 Juni 2012. Gramedia takut menghadapi ancaman umat islam. Atau ketika ada video dengan nabi Muhammad, umat islam sedunia marah.


