Kamis, 03 September 2020

NILAI SEBUAH KEPERAWANAN

Seorang gadis manis berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada gadis itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah gadis itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap gadis itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, gadis itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa gadis itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja gadis itu dan bertanya, “Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
”Tidak!” Jawab gadis itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
”Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
“Apakah tidak boleh?” gadis itu mulai memandang ke arah petugas satpam.
”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
”Maksud, bapak?”
”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini”
”Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya jual” Kata wanita itu dengan suara lambat.
”Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini?” Petugas satpam itu memperhatikan gadis itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin gadis ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur. ”Ok lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”

Rabu, 02 September 2020

INILAH TIPS MENJADI ORANG SABAR

Sering kita mendengar pernyataan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Berhadapan dengan persoalan atau rintangan yang bertubi-tubi membuat stok kesabaran yang ada dalam diri kita kian menipis. Orang pintar biasa berasionalisasi bahwa sebenarnya kita yang berhenti untuk bersabar.
Kesabaran bukanlah hal yang bisa dicapai; bukan pula suatu barang jadi. Kesabaran butuh latihan, dan latihan itu sendiri merupakan sebuah proses. Karena itu, dapat dikatakan bahwa kesabaran adalah produk dari suatu proses yang tidak singkat. Untuk mendapatkan kesabaran dibutuhkan proses yang panjang dan perjuangan. Dan untuk itu semua, dibutuhkan juga kesabaran.
Orang yang sabar adalah orang yang berpotensi untuk “menang” atau sukses. Karena itu, kesabaran menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Berikut ini beberapa tips yang berguna untuk membangun kesabaran dalam diri kita.
1.  Melakukan relaksasi
Sering kita tidak sabaran menghadapi orang dengan karakter tertentu. Kita mudah marah atau kecewa. Tak jarang ekspresi kita tidak bisa terpenuhi bahkan dalam hal-hal sepele sekalipun. Hal ini dapat membuat kita tak sabar dan cara paling sederhana untuk menghadapinya adalah dengan menarik nafas dalam-dalam. Ini merupakan salah satu cara relaksasi yang paling sederhana. Cukup tarik nafas dan buang secara perlahan. Lakukan rangkaian ini selama 3 hingga 4 detik dan buat jeda sebelum mengambil nafas berikutnya.


2.  Melihat permasalahan dari berbagai sisi

Ada kalanya kita mendapat ketidak-pastian dari orang lain. Setelah menunggu dalam ketidak-pastian tersebut tak jarang kita jatuh dalam ketidak-sabaran. Di sini biasanya muncul pikiran-pikiran negatif. Namun sebelum pikiran negatif itu muncul, ada baiknya kita melihat keterlambatan atau ketidak-pastian itu dari berbagai sudut pandang. Kita jangan hanya memakai sudut pandang kita dalam menilai ketidak-pastian itu.

Selasa, 01 September 2020

MENGKRITISI SURAH AL-BAQARAH AYAT 62

Sering dijumpai pernyataan bahwa apapun agamanya, tujuannya satu. Di sini mau dikatakan bahwa agama hanyalah sekedar cara atau jalan untuk mencapai tujuan tersebut. “Ada banyak jalan menuju Roma”, demikianlah pepatah lama merangkumnya. Umumnya yang dimaksud dengan “tujuan” itu adalah sorga atau kebahagiaan abadi, dan di belakang sorga itu ada Allah. Karena itu juga, di balik pernyataan itu, ada satu kesimpulan bahwa apapun agamanya, Tuhan Allah itu hanya satu. Allah agama ini sama dengan agama itu.
Apakah islam memiliki pemikiran seperti ini? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Allah umat islam berbeda dari Allah umat agama lain. Malah islam berpendapat bahwa tiap-tiap agama mempunyai Allah-nya sendiri. Hal ini didasarkan pada wahyu Allah dalam QS al-Baqarah: 62:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya….
Huruf tebal dalam kutipan di atas (Tuhannya) sengaja kami buat untuk memberi tekanan, sedangkan frase dalam tanda kurung – di antara mereka – bisa dikatakan merupakan tambahan kemudian yang berasal dari manusia, bukan wahyu asli Allah SWT. Jika kita membaca atau memperhatikan ayat sebelumnya (61) dan ayat sesudahnya (63), maka dapat dikatakan bahwa ayat 62 ini berdiri sendiri. Ia sama sekali tidak ada kaitan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan ayat 61 dan 63. Ada kemungkinan ayat ini disampaikan khusus kepada umat islam atau para pengikut Muhammad. Namun terbuka juga kemungkinan bahwa ayat ini dikatakan kepada publik, tidak hanya khusus umat islam saja. Dengan pernyataan ini, umat-umat agama lain disadarkan bahwa mereka akan mendapat pahala dari Tuhannya atas kebaikan yang dilakukan.
Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” dalam ayat di atas adalah umat islam. Frase tersebut sering dijumpai dalam Al-Qur’an, dan semua itu merujuk pada umat islam. Dalam ayat 62 ini terlihat jelas bahwa masing-masing agama memiliki Tuhannya sendiri. Dengan kata lain, Tuhan orang islam berbeda dengan Tuhan orang Yahudi, nasrani dan Sabiin, demikian pula Tuhan orang Yahudi berbeda dengan Tuhan orang islam, nasrani dan Sabiin, dan seterusnya. Hal ini terbaca pada frase “mereka mendapat pahala dari Tuhannya”. Kata “Tuhannya” menunjukkan sekaligus menegaskan bahwa Tuhan itu berbeda-beda berdasarkan agama umat manusia.