Jumat, 28 Juli 2017

MELIHAT ADAM & HAWA DALAM KETIGA AGAMA SAMAWI


Agama sering diartikan sebagai kumpulan aturan atau ajaran. Umumnya orang mengenal tiga agama (Yahudi, Kristen dan Islam) sebagai agama samawi.  Kata ‘samawi’ berasal dari bahasa Arab, dari kata As-Samawat yang berarti ‘langit’. Karena itu, agama samawi dapat dipahami sebagai agama langit, karena para penganutnya percaya bahwa agamanya dibangun berdasarkan wahyu Allah. Langit dianggap sebagai tempat tinggal Allah.
Ketiga agama samawi ini disatukan oleh satu tokoh yang sama, yaitu Abraham (islam: Ibrahim). Karena itu, agama samawi dikenal juga dengan istilah agama Abrahamik atau agama Ibrahimiyyah. Abraham diyakini sebagai orang pertama yang membawa tradisi monoteis. Karena itu juga, ketiga agama ini dikenal sebagai agama monoteistik. Namun, tidak semua agama monoteistik adalag agama Abrahamik.
Sekalipun bersatu pada sosok Abraham, namun banyak pemeluk agama Yahudi, Kristen dan Islam menolak pengelompokan seperti ini (agama samawi). Mereka melihat bahwa sekalipun “satu”, tapi pada dasarnya dan intinya ketiga agama ini mengandung gagasan-gagasan berbeda seperti Abraham sendiri, kitab suci bahkan konsep ketuhanan serta nama Tuhan. Misalnya, soal kitab suci, kitab suci Yahudi diterima oleh Kristen, sementara kitab suci Islam lain tersendiri; malah Islam menilai kitab suci Yahudi dan Kristen sekarang palsu. Konsep ketuhanan Yahudi dan Islam memiliki kemiripan, sementara Kristen lain sendiri.
Perbedaan lain adalah soal Adam dan Hawa. Karena kitab suci Yahudi menjadi bagian dari kitab suci Kristen (disebut Perjanjian Lama), maka kisah tentang Adam dan Hawa untuk kedua agama ini adalah sama. Sementara itu, kitab suci agama Islam lain sendiri, yang membuat kisah Adam dan Hawa juga berbeda dari kedua agama samawi lainnya. Kenapa bisa berbeda? Kisah manakah yang benar?
Banyak tokoh Islam sudah menyatakan bahwa kitab suci agama Yahudi dan Kristen sudah dipalsukan (bdk. QS Ali Imran: 78). Jadi, kisah merekalah yang paling benar. Sementara Yahudi dan Kristen tidak pernah menyatakan kisah mereka paling benar dan yang lain palsu. Tulisan ini tidak bermaksud mencari kebenaran kisah tersebut. Tulisan ini hanya memaparkan perbedaan itu, dan membiarkan pembaca sendiri menilai.
Adam dan Hawa dalam Yahudi dan Kristiani

Rabu, 26 Juli 2017

PAUS FRANSISKUS: TUHAN MENGASIHI DAN MEMILIH ORANG RENDAH HATI

Yesus mengasihi dan mengungkapkan diri kepada orang-orang yang lemah lembut, yang tak berdaya dan rendah hati. Demikian ungkap Paus Fransiskus dalam kotbah saat misa di Domus Sanctae Marthae, 23 Juni. “Dia jatuh cinta dengan kesederhanaan kita dan karena itulah Dia memilih kita. Dia memilih yang terkecil, bukan yang terbesar tapi tak terkecil. Karena itu, Dia mengungkapkan diri kepada anak-anak kecil, bukan yang bijak dan terpelajar.”
Menandai Pesta Hati Kudus Yesus, Paus Fransiskus berbicara tentang misteri hati yang mengikat diri dengan kita dan tetap setia tidak peduli apa pun yang terjadi. “Kita telah dipilih karena cinta dan inilah identitas kita,” kata Paus Fransiskus.
Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa “Saya memilih agama ini .... Bukan. Anda tidak memilih. Dialah yang memilih Anda. Dia memanggil Anda dan Dia mengikatkan diri kepada Anda dan inilah iman kita.” Tegas Paus Fransiskus.
“Jika Anda ingin memahami sesuatu tentang misteri Yesus, rendahkan dirimu dan mengakui bahwa kamu tidak punya apa-apa.” Demikian tegas Paus, yang pernah mengkritik gaya hidup mewah para imam.
Alasan Dia memanggil dan mengungkapkan dirinya kepada orang-orang kecil dan rendah hati adalah karena mereka bersedia dan terbuka untuk mendengarkan. Orang-orang kecil adalah mereka yang menderita, lelah dan memikul beban berat.
Tuhan, yang hatinya terbuka, memanggil semua orang, termasuk yang besar, tetapi mereka tidak mendengar “karena mereka sibuk dengan diri mereka sendiri” dan tidak memberi tempat untuk hal lain, pungkas Paus Fransiskus.
sumber: UCAN Indonesia

Senin, 24 Juli 2017

APAKAH SEMUA ORANG DIPANGGIL UNTUK MENIKAH?

Ada orang merasa aneh melihat sesamanya yang sudah berusia 30 tahun bahkan lebih belum juga menikah; atau melihat pastor dan suster tidak menikah. Tak jarang orang-orang seperti ini disematkan label negatif seperti ‘orang tak laku’ atau ‘perawan tua’ bahkan dicurigai sebagai kaum homoseks. Di balik pemikiran ini terbersit bahwa menikah itu sebuah kewajiban; bahwa setiap orang harus menikah. Hal ini sering membuat banyak orang gelisah, ketika menginjak usia 30-an belum juga menemukan jodoh. Apakah Gereja Katolik mengajarkan demikian?
Tidak. Dalam Ketekismus Gereja Katolik (KGK) ditegaskan bahwa tidak semua orang dipanggil untuk menikah. Memang kepenuhan hidup terdapat dalam hidup menikah, namun orang-orang yang hidup selibat pun dapat mencapai kepenuhan hidup. Yesus Kristus menunjukkan cara khusus kepada para murid-Nya; Ia mengajak mereka untuk tidak menikah “demi Kerajaan Sorga” (Mat 19: 12).
Banyak orang yang hidup selibat menderita kesepian. Hal itu mereka anggap sebagai kekurangan dan kerugian. Namun orang yang tidak harus mengurus pasangan atau keluarga juga menikmati kebebasan serta memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang berarti dan penting yang tidak pernah bisa dinikmati oleh mereka yang menikah. Mungkin itu kehendak Allah, bahwa Ia harus mengurus orang yang tidak ada orang lain mengurusnya.
Tentu saja panggilan kristen tidak pernah merendahkan pernikahan atau seksualitas. Selibat yang dilakukan dengan sukarela dapat dilakukan hanya dalam cinta dan karena kasih, sebagai pertanda kuat bahwa Allah lebih penting daripada apa pun. Orang yang belum menikah menolak hubungan seksual, tetapi ia tidak menolak cinta. Dengan penuh kerinduan ia pergi untuk bertemu dengan Kristus, Sang Mempelai yang akan datang (Mat 25: 6).

by: adrian