Selasa, 30 Agustus 2016

Orang Kudus 30 Agustus: St. Amadeus

SANTO AMADEUS, PENGAKU IMAN
Amadeus lahir pada sekitar tahun 1110 di Dauphine, Perancis. Ia adalah putera dari Amadeus Clerrmont, seorang bangsawan di Hauterive. Amadeus memperoleh pendidikan di biara di Bonnevaux dan Cluny. Amadeus kemudian bertugas di Istana Kaisar Henry V.
Karena tertarik dengan kehidupan para biarawan, Amadeus akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ordo Sistersian di Clairvaux. Di sini Amadeus  mendapat bimbingan langsung dari abbas Santo Bernardus Clairvaux. Amadeus kemudian ditugaskan sebagai abbas pada biara Ilautecombe, Savoy pada tahun 1139.
Pada tahun 1144 Amadeus ditunjuk sebagai uskup di Lausanne, walau sebenarnya ia tidak menginginkannya. Namun karena ketaatannya, Amadeus akhirnya menerima penugasan itu. Keadaan keuskupannya sangat buruk, terlihat dari para rohaniwan dan juga kaum awam. Amadeus harus bekerja keras melakukan perubahan. Kotbah-kotbah Amadeus masih tersimpan sampai saat ini.
Di akhir hidupnya, Amadeus diserahi tanggung jawab sebagai wakil pemimpin Savoy dan Kanselir Burgundy. Amadeus meninggal dunia pada 24 Agustus 1159 di Perancis. Tidak diketahui dengan pasti kapan Amadeus dibeatifikasi dan dikanonisasi. Tapi pada 9 Desember 1903 kultusnya diakui oleh Paus Pius X
Baca juga orang kudus hari ini:

Senin, 29 Agustus 2016

PERBEDAAN IMAM DULU DAN SEKARANG

Keberadaan Gereja Katolik tak bisa dipisahkan dari keberadaan para imam. Mereka berasal dari umat, dipilih dari umat untuk berkarya di kehidupan pastoral gerejawi. Jejak keberadaan mereka dapat ditelusuri sejak jemaat perdana. Dan hingga kini pun Gereja tetap membutuhkan mereka. Oleh karena itu, selalu diadakan panggilan kepada kaum muda untuk menjawab panggilan Tuhan.
Perkembangan zaman mengubah banyak hal. Gereja sendiri mengalami perkembangan mengikuti tuntutan zaman. Karena itu, dalam Gereja ada semboyan ecclesia semper reformanda. Sebenarnya perubahan Gereja itu bukan sekedar mengikuti perkembangan zaman, melainkan lebih pada menjawab tantangannya.
Demikian pula halnya para imam. Perkembangan zaman membuat adanya perubahan-perubahan dalam diri imam. Untuk mengetahui perbedaan para imam dahulu dan sekarang, silahkan baca di sini: Budak Bangka: (Pencerahan) Pastor Dulu vs Pastor Sekarang

Minggu, 28 Agustus 2016

KETIKA SANDIAGA UNO “DIMALU-MALUIN” NETIZEN

Banjir yang melanda kota Jakarta hari Minggu (28/8/2016) membuat Sandiaga Uno, calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra angkat bicara. “Katanya tiga hari hujan tidak akan banjir. Ini ternyata belum sampai sehari, sudah seperti itu di Kemang. Kan malu-maluin,” ujarnya.
Sandi memang tidak menyebut siapa yang dimaksudkannya dengan malu-maluin. Namun publik sudah bisa membaca siapa yang dimaksud. Tak lain dan tak bukan adalah Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Tjahaya Purnama, atau yang bisa disapa Ahok. Tentulah orang bisa menilai maksud komentar Sandi tersebut, yaitu ingin menjatuhkan kredibilitas Ahok.
Namun ketika membaca komentar atas berita tersebut yang ada di Kompas dot com, (baca beritanya di sini) kita dapat melihat betapa para komentator memalu-maluin Sandiaga Uno. Ada yang komen, “Banyak bacot loe uno!”. Ada beberapa menyinggung masalah panama papers. Lebih sadis lagi, tak sedikit komentator menyampaikan kasus Sandiaga Uno yang meminta penyanyi dangdut untuk menari bugil. Wah, inilah wajah calon gubernur kita.
Ada komentator mencoba membuka otak Sandiaga Uno, supaya tidak berpikiran dungu. Komentator mengatakan bahwa pada tahun 2015 Gubernur DKI sudah memberi peringatan akan banjir melanda Jakarta Selatan. Jadi, dengan ini seharusnya Sandiaga Uno bisa berpikir cerdas, menilai maksud omongan “tiga hari hujan tidak akan banjir” itu apakah juga termasuk daerah Jakarta Selatan atau daerah tertentu atau seluruh Jakarta.
Membaca komentator para netizen, sungguh menjadi miris. Maksud hati Sandiaga Uno memalu-maluin orang (pembaca menilainya adalah Ahok), namun akhirnya dia sendiri dimalu-maluin para netizen. Suatu pelajaran, agar jangan mudah memberi komentar tanpa dasar dengan maksud menjatuhkan lawan politik. Para politikus harus sadar bahwa perkembangan teknologi membuat dunia kita menjadi sempit.
Jika ditilik permasalahannya, orang yang dimaksud Sandiaga Uno “malu-maluin” sama sekali tidak merasa malu karena sama sekali tidak ada yang salah. Banjir di Kemang sudah diprediksi tahun 2015. Akan tetapi, bagaimana ketika giliran para netizen memalu-maluin Sandiaga Uno. Apakah Sandiaga Uno merasa malu, karena dia komentar seakan tak ada salah atau, seperti komen salah seorang netizen, dia pikun?
Yah, kalau Sandiaga Uno masih punya perasaan malu, tentulah dia akan malu. Aibnya dibongkar oleh para netizen, seperti meminta penyanyi dangdut menari bugil. Pastilah banyak orang bertanya, bagaimana mungkin calon gubernur dengan muka alim nan saleh bisa berwajah mesum. Tapi, semuanya berpulang pada Sandiaga Uno.

Batam, 28 Agustus 2016
by: adrian