Minggu, 04 Oktober 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXVII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXVII, Thn B/I
Bac I  Kej 2: 18 – 24; Bac II                Ibr 2: 9 – 11;
Injil    Mrk 10: 2 – 12;

Bacaan pertama dan Injil hari ini secara langsung berbicara tentang perkawinan atau hidup berkeluarga. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kejadian, diceritakan beberapa hal terkait dengan perkawinan itu, misalnya bahwa istri adalah penolong yang sepadan bagi suami (ay. 18), bahwa istri merupakan bagian dari suami (ay. 21), dan bahwa suami istri tak terceraikan (ay. 24). Di atas semuanya ini terlihat jelas bahwa perkawinan itu dibentuk atas dasar kehendak Allah. Oleh karena itu, beberapa hal yang berkaitan dengan perkawinan itu berdasarkan kehendak Allah.
Dalam Injil Tuhan Yesus mengulang kembali apa yang sudah diungkapkan dalam bacaan pertama tadi. Hal ini terkait dengan pernyataan orang Farisi bahwa boleh bercerai asal punya surat cerai, dan ini didasarkan pada tindakan nabi Musa (ay. 4). Akan tetapi, Tuhan Yesus menegaskan hakikat perkawinan yang dari semula merupakan kehendak Allah. Tuhan Allah-lah yang membentuk perkawinan. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (ay. 9).
Penulis Surat kepada Orang Ibrani, yang menjadi bacaan kedua hari ini, sama sekali tidak menyinggung soal perkawinan. Penulis hanya menampilkan refleksi hubungan umat dengan Kristus Yesus. Dikatakan bahwa Tuhan Yesus telah mengalami maut bagi semua manusia (ay. 9). Sekalipun Dia memiliki kemuliaan, namun Dia tak mempermasalahkan untuk “turun” bersama manusia. Bahkan bagi penulis, Tuhan Yesus telah menyatu dengan manusia sehingga Ia tidak malu menyebut mereka saudara (ay. 11). Kebersatuan ini membuat manusia bukan siapa-siapa lagi, melainkan bagian dari kehidupan Tuhan Yesus. Kiranya semangat ini harus ada dalam kehidupan suami istri. Ketika mereka bersatu, istri menjadi bagian dari hidup suami, demikian pula sebaliknya.
Dewasa kini perceraian seakan menjadi budaya. Bahkan dalam Gereja Katolik, yang sedari awalnya tidak mengenal istilah cerai, banyak pasangan suami istri yang bercerai. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada lagi kebersatuan antara suami istri. Suami tidak lagi melihat istri sebagai bagian dari hidupnya atau penolong yang sepadan, demikian halnya dengan sang istri. Mereka saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing. Sabda Tuhan hari ini mencoba membuka kesadaran suami istri. Tuhan mengingatkan kita, khususnya pasangan suami istri, bahwa pernikahan itu dibentuk oleh Tuhan. Ketika mengikrarkan janji nikah, suami bersatu dengan istri. Kebersatuan ini bukan hanya dalam arti fisik, melainkan juga psikis, jiwa dan spiritual.***
by: adrian

Sabtu, 03 Oktober 2015

Ziarah ke Israel #20

RUMAH KAYAFAS
Lokasi ziarah yang ketiga yang kami datangi adalah bekas rumah Kayafas. Dalam Kitab Suci kita ketahui bahwa Kayafas adalah Imam Besar pada jaman Tuhan Yesus (Mat 26: 3). Di rumahnya berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi untuk menyusun rencana menangkap Tuhan Yesus ( Mat 26: 3 – 5).
Dari Injil juga diketahui bahwa setelah ditangkap, Tuhan Yesus dibawa ke rumah Kayafas (Mat 26: 57). Di areal istana Kayafas ternyata ada semacam tahanan. Lokasinya berada di bawah tanah. Di sinilah Tuhan Yesus ditahan dan disiksa.

Renungan Hari Sabtu Biasa XXVI - Thn I

Renungan Hari Sabtu Biasa XXVI, Thn B/I
Bac I  Bar 4: 5 – 12, 27 – 29; Injil                 Luk 10: 17 – 24;

Bacaan-bacaan liturgi Injil hari ini terkesan saling bertentangan, meski memiliki kesamaan dalam pesannya. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Barukh, dikisahkan bahwa, sekalipun menghukum umat-Nya, Allah tidak akan menghancurkan mereka (ay. 27). Umat dihukum karena mereka melupakan Tuhan “dengan mempersembahkan korban kepada setan, bukan kepada Allah.” (ay. 7). Dengan kata lain, bangsa Israel lebih mengabdi kepada setan/iblis daripada Allah. Padahal antara Allah dan umat Israel sudah terikat dengan perjanjian kesetiaan. Akan tetapi, Tuhan Allah tidak menghancurkan mereka karena kasih-Nya.
Dalam Injil dikisahkan bahwa para murid telah mengalahkan kuasa setan/iblis. Kepada Tuhan Yesus mereka berkata, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” (ay. 17). Harus disadari bahwa para murid ini berhasil menundukkan setan bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kuasa yang mereka dapat dari Tuhan Yesus. Artinya, bersama Tuhan Yesus mereka mengalahkan setan itu. Jadi, jika dalam bacaan pertama umat Israel bersahabat dengan setan, dalam Injil para murid justru mengalah setan.
Sabda Tuhan hari ini mau mengingatkan kita bahwa kita terpanggil untuk senantiasa mengabdi kepada Tuhan dan berjuang untuk mengalahkan setan. Tuhan menghendaki supaya kita selalu menaklukkan setan dalam kehidupan kita, dan tidak memberi ruang baginya dalam kehidupan kita. Hal ini dapat kita lakukan bila kita senantiasa berjalan bersama Yesus, Tuhan dan penyelamat kita.***

by: adrian