Selasa, 29 April 2014

Orang Kudus 29 April: St. Katarina Siena

SANTA KATARINA SIENA, PERAWAN & PUJANGGA GEREJA
Pada abad ke-14, kota Sienna menjadi ibukota sebuah Republika yang makmur dan merdeka. Di kota inilah, Katarina lahir pada tahun 1347, keluarganya tergolong besar tapi sederhana. Demi keutuhan Gereja, Allah memilih dia menjadi pembimbing dan pelindung Gereja dalam suatu kurun waktu yang suram.

Katarina tidak bersekolah dan tidak pandai menulis. Keterampilan membaca sangat sedikit dikuasainya. Hal ini sedikit menolongnya untuk mengikuti doa ofisi di kemudian hari ketika ia masuk biara. Ketika berusia 6 tahun, ia mengalami suatu peristiwa ajaib, yang memberi tanda surgawi bahwa ia akan dipilih Allah untuk suatu tugas khusus dalam Gereja. Ia melihat Kristus di atas Gereja Santo Dominikus yang sedang memberkatinya. Peristiwa ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia suka memencilkan diri untuk berdoa. Ibunya tidak suka melihat kelakuannya. Oleh karena itu, ia dipekerjakan di dapur dari pagi hingga malam. Ia tidak memberontak terhadap perlakuan ibunya. Sebaliknya, ia dengan taat dan rajin melakukan apa yang disuruh ibunya.

Kesabarannya dalam menaati suruhan ibunya, akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ia mampu mengatasi segala kesulitan yang menimpanya, sambil terus berdoa kepada Tuhan. Sesudah mengalami banyak kesulitan, ia diizinkan orang tuanya untuk masuk ordo Ketiga Santo Dominikus. Di dalam biara ia tetap melaksanakan doa dan meditasi di samping karya amal dan kerasulannya. Lama-kelamaan ia menjadi pusat perhatian semua anggota biara. Kerohanian dan kepribadiannya yang menarik mengangkat dia ke atas jabatan pemimpin biara itu.

Situasi Gereja pada masa itu kacau-balau. Imam-imam dan pimpinan Gereja tidak menampilkan diri secara baik. Peperangan antar negara dan antar raja-raja timbul di mana-mana. Di samping itu, Paus di Avignon, Perancis yang sudah berusian 70 tahun menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin Gereja. Dalam suatu penglihatan, Kristus menganjurkan kepada Katarina untuk menyurati Paus, raja-raja dan uskup serta para panglima guna memperbaiki keadaan masyarakat dan Gereja. Paus Gregorius XI memintanya pergi ke Pisa dan Florence untuk mendamaikan kedua republik itu. Katarina berhasil meyakinkan Paus untuk pulang ke Roma sebagai kota abadi dan pusat Gereja.

Semenjak masuk ke dalam Ordo ketiga Santo Dominikus, Katarina makin memperkeras puasanya. Banyak kali ia tidak makan, kecuali menerima Komuni Suci. Ia dikaruniai Stigmata / luka-luka Tuhan Yesus. Atas permohonannya, stigamata itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Kemudian setelah meninggal stigmata itu baru terlihat di badannya secara jelas. Katarina memiliki kharisma yang besar untuk mempengaruhi banyak orang. Ia berhasil membawa kembali banyak pendosa ke jalan Tuhan, termasuk mendamaikan raja-raja dengan Gereja. Semuanya itu dilihatnya sebagai anugerah Tuhan. Ia sendiri menganggap dirinya hanyalah alat Tuhan untuk menegakkan kemuliaan Tuhan. Pada tahun 1380 ia meninggal dunia di Roma dalam usia 33 tahun.

Renungan Hari Selasa Paskah II - A

Renungan Hari Selasa Paskah II, Thn A/II
Bac I   : Kis 4: 32 – 37; Injil          : Yoh 3: 7 – 15;

Injil hari ini masih melanjutkan diskusi antara Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Jika kemarin diskusi membahas soal dilahirkan kembali, diskusi kali ini mengarah pada peristiwa salib. Yesus memberi perbandingan antara kisah ular tembaga Musa dengan kisah Salib Yesus. Keduanya berdampak pada kehidupan. “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (ay. 14 – 15).

Bacaan pertama menampilkan kisah kehidupan jemaat kristen perdana. Dapat dikatakan bahwa cara hidup ini merupakan ungkapan kepercayaan mereka kepada Yesus yang wafat dan bangkit. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepada Yesus mengungkapkannya lewat cara hidup yang tidak lagi mengagungkan egonya, sehingga melihat “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (ay. 32).

Sabda Tuhan hari ini mau mengingatkan kita bahwa salib Kristus membawa keselamatan. Di kayu salib tergantung tubuh Tuhan Yesus, yang rela menanggalkan ego-Nya demi keselamatan umat manusia. Semangat salib itulah yang dihidupi oleh jemaat perdana. Dan Tuhan menghendaki supaya kita pun menghayati semangat salib Kristus, menanggalkan ego kepentingan pribadi demi kebahagiaan bersama.

by: adrian

Senin, 28 April 2014

Proses Pembuatan Coklat

PROSES PEMBUATAN COKLAT
Coklat berasal dari biji kakao matang yang dikeringkan. Indonesia termasuk salah satu negara penghasil kakao. Namun sayang, coklat lebih terkenal di luar negeri. Hingga era reformasi, belum ada produk coklat lokal yang mumpuni, padahal cara membuatnya tidaklah terlalu susah.
Untuk membuat coklat dibutuhkan beberapa proses. Sementara untuk menghasilkan coklat yang berkualitas, tergantung ramuannya. Ada beberapa tahapan pembuatan coklat. Awalnya, biji kako dibersihkan untuk menghilangkan semua bahan asing. Perlu diperhatikan, hendaklah mendapatkan biji kako yang benar-benar matang.
Setelah bersih, biji kakao dipanggang untuk mengeluarkan rasa coklat dan warna biji. Dalam proses ini perlu diperhatikan tingkat suhu, waktu dan tingkat kelembaban. Hal ini dikaitkan juga dengan jenis biji kakao dan jenis produk yang hendak dihasilkan.
Biji kakao yang sudah dipanggang dimasukkan ke dalam winnowing machine untuk memisahkan kulit ari biji dari biji kakao. Biji kakao kemudian masuk dalam proses alkalisasi.
Setelah proses alkalisasi, biji kakao digiling untuk menghasilkan cocoa liquor. Di sini perlu diperhatikan suhu dan tingkat penggilingan, karena berpengaruh pada jenis produk yang mau dihasilkan.
Sesudah biji kakao menjadi cocoa liquor, bahan mentah tersebut dapat ditambah dengan beberapa bahan pencampur untuk menambah citra rasa coklat. Beberapa bahan campuran yang biasa digunakan adalah: vanila, kacang, biji mente, susu, dll. Campuran ini perlu memperhatikan formulanya.
Langkah selanjutnya adalah mengekstrak the cocoa liquor dengan cara dipress untuk mendapatkan cocoa butter dan kakao dengan massa padat yang disebut cocoa presscake. Persentasi lemak kakao yang dipress disesuaikan dengan keinginan kita sehingga komposisi cocoa butter dan cocoa presscake tidak sama. Cocoa butter, dengan penambahan cocoa liquor,  akan dipakai dalam pembuatan coklat. Di sini akan dimasukkan bahan-bahan lain seperti gula, susu, pengemulsi agen. Takaran bahan akan berbeda sesuai jenis coklat yang diproduksi. Sementara cocoa presscake dihaluskan menjadi bubuk coklat.
Tahap berikutnya adalah refining dan conching. Tahap ini bertujuan untuk meningkatkan lebih lanjut soal rasa dan tekstur coklat. Hasil conching kemudian melewati proses pemanasan, pendinginan dan pemanasan kembali. ini berfungsi untuk mencegah perubahan warna dan lemak coklat.
Setelah selesai proses di atas, campuran coklat kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan didinginkan dalam ruang pendingin. Dibutuhkan waktu yang pas sehingga coklat benar-benar padat. Lalu coklat siap dikemas dan didistribusikan.

Jakarta, 27 April 2014
by: adrian, dari berbagai sumber