Minggu, 17 Juni 2012

Rencana Gedung Gereja Baru


PEMBANGUNAN GEREJA BARU paroki st yosep tanjung balai karimun

Tahun ini umat Paroki St Yosep berencana untuk membangun gedung gereja dan pastoran baru. Pembangunan ini merupakan suatu keharusan karena beberapa alasan. Gedung gereja yang lama sudah tidak memadai lagi. Ada banyak bagian dari gedung yang sudah lapuk dimakan usia. Hal yang sama juga dengan gedung pastorannya. Gedung gereja dan pastoran yang sekarang ini termasuk kategori tua. Usianya sudah lebih dari 60 tahun.

Selain itu juga bangunan gereja yang lama sudah tidak bisa lagi menampung jumlah umat yang kian bertambah banyak. Untuk menampung umat yang banyak saat misa, paroki mengambil kebijakan dengan menambah atas di samping gereja. Saat ini untuk kegiatan perayaan ekaristi sebagian besar umat duduk di luar. 

Inilah foto gedung gereja St Yosep Tanjung Balai Karimun yang lama.


Dengan alasan di atas, maka direncanakanlah pembangunan gedung gereja dan juga pastoran yang baru. Gedung gereja yang baru akan mengambil motif etnis China. Ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap warga etnis China mengingat awal mula benih iman Katolik yang ada di paroki St Yosep Tanjung Balai Karimun khususnya dan Kepulauan Riau pada umumnya berasal dari warga keturunan China. Orang-orang China-lah yang menanamkan benih iman Katolik itu.

Inilah model bangunan gereja St Yosep yang baru


Kami, warga paroki St Yosep Tanjung Balai Karimun, sangat mengharapkan bantuan dari bapak-ibu, saudara/i dan hantai taulan untuk mempercepat terwujudnya harapan kami. Bantuan Anda dapat disalurkan ke nomor rekening Panitia Pembangunan Gereja:

BANK MANDIRI - KCP Tanjung Balai Karimun
No. 109-00-1251218-2
a.n. Sally Silvia Levis

Atas kemurahan hati, kebaikan dan juga sumbangan Anda, kami menghaturkan limpah terima kasih. Doa kami menyertai Anda.....

Renungan Hari Minggu Biasa XI-B

Renungan Hari Minggu Pekan Biasa XI B/II
Bac I   : Yeh 17: 22 – 24; Bac II        : 2Kor 5: 6 – 10
Injil      : Mrk 4: 26 – 34

Sabda Tuhan pada kita hari ini mau mengatakan bahwa segala sesuatu yang besar itu berawal dari yang kecil; dan dalam perkembangan kecil ke besar itu Tuhan berperan. Dengan kata lain, yang mau dikatakan di sini adalah soal proses. Bahwa segala sesuatu itu selalu berproses; dan proses itu biasanya membutuhkan waktu.

Dalam Injil yang besar itu adalah kerajaan Allah. Yesus mengajak para murid-Nya untuk mengemban misi kerajaan Allah, yaitu mewujudkan kerajaan Allah. Kerajaan Allah harus sudah dimulai saat kini dan di sini, dan mencapai pemenuhannya nanti di akhir zaman. Kerajaan Allah adalah suatu situasi damai, adil dan kasih. Ini adalah cita-cita besar umat manusia. Untuk mewujudkan kerajaan Allah, kita dapat memulainya dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Karena itulah, Yesus mengumpamakannya dengan benih. Semua orang tahu kalau benih itu kecil dan sederhana. Namun dari yang kecil itulah kelak menjadi tumbuhan yang besar, indah dan berguna bagi banyak orang. Bagaimana proses tumbuhnya, kita tak tahu. Itulah yang dikatakan Tuhan kepada nabi Yehezkiel. Dalam bacaan pertama Allah berkata kepada Yehezkiel bahwa Allah-lah yang menumbuhkannya. Manusia hanya menabur, tapi Allah yang menumbuhkannya.

Kita, sebagai murid Kristus dipanggil untuk mewujudkan kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah cita-cita kita kini dan kelak. Untuk mewujudkan kerajaan Allah itu kita tak perlu melakukan hal-hal yang besar dan luar biasa. Cukuplah dengan aksi kecil dan sederhana dan diawali dari yang kecil, yaitu keluarga kita. Suami isteri dan anak bersama-sama menghadirkan kerajaan Allah dalam rumah tangganya. Suami mengasihi dan berlaku adil kepada isteri dan isteri mengasihi dan berlaku adil kepada suami; orang tua mengasihi dan berlaku adil kepada anak dan anak mengasihi dan berlaku adil kepada orang tua. Artinya, ada kasih dan keadilan dalam rumah tangga itu. Nah, kalau ada kasih dan keadilan maka dapatlah dipastikan ada damai dalam rumah tangga itu.

Kerajaan Allah yang sudah hadir dalam rumah tangga itu tentulah akan menjadi daya tarik bagi tetangga lainnya. Mereka akan “berguru” bagaimana menghadirkan kerajaan Allah itu dalam rumah tangga mereka. Maka dengan demikian benih kerajaan Allah itu akan segera menyebar.

Kerajaan Allah juga dapat kita wujudkan di tempat kerja kita. Dengan berlaku adil dan penuh kasih kepada bawahan, atasan atau juga rekan kerja, kita dapat menciptakan suasana damai. Dengan demikian benih kerajaan Allah itu akan dengan mudah tumbuh.

Namun perlu disadari bahwa kita hanyalah berusaha untuk berlaku adil dan penuh kasih sehingga suasana damai tercipta. Soal pertumbuhannya menjadi besar dan luas bukanlah urusan kita. Itu adalah peran Allah. Inilah yang dikatakan Allah kepada Yehezkiel. Ini untuk menyadarkan kita agar kita tidak jatuh dalam kesombongan diri.

Marilah kita bersama-sama berusaha untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Kita diajak untuk menyadari bahwa kita tidaklah sendirian. Mewujudkan kerajaan Allah itu adalah tugas kita bersama, dan di dalamnya Allah sendiri turut serta.
by: adrian

Sabtu, 16 Juni 2012

(Inspirasi Hidup) Kami Bertiga, Kamu Bertiga

KAMI BERTIGA, KAMU BERTIGA

Ketika kapal seorang Uskup berlabuh untuk satu hari di sebuh pulau yang terpencil, ia bermaksud menggunakan hari itu sebaik-baiknya. Ia berjalan-jalan menyusur pantai dan menjumpai tiga orang nelayan sedang memperbaiki pukat. Dalam bahasa Inggeris pasaran mereka menerangkan bahwa berabad-abad sebelumnya mereka telah dibaptis oleh para misionaris. “Kami orang kristen,” kata mereka sambil dengan bangga menunjuk dada.

Uskup amat terkesan. Secara iseng Uskup bertanya kepada mereka apakah mereka tahu doa Bapa Kami? Ternyata mereka belum pernah mendengarkannya. Uskup terkejut sekali. Bagaimana mungkin orang-orang ini dapat menyebut diri mereka kristen jika mereka tidak mengenal sesuatu yang begitu dasariah seperti doa Bapa Kami.

“Lantas, apa yang kamu ucapkan bila berdoa?”

“Kami memandang ke langit. Kami berdoa: kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami. Amin.” 

Uskup heran akan doa mereka yang primitif dan jelas bersifat bidaah ini. maka sepanjang hari ia mengajar mereka berdoa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sulit sekali menghafal, tetapi mereka berusaha sebisa-bisanya. Sebelum berangkat lagi pada pagi hari berikutnya, Uskup merasa puas. Sebab, mereka dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan lengkap tanpa satu kesalahan pun.

Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan melewati kepulauan itu lagi. Uskup mondar-mandir di geladak sambil berdoa malam. Dengan rasa senang ia mengenang, bahwa di salah satu pulau yang terpencil itu ada tiga nelayan yang mampu berdoa Bapa Kami dengan lengkap berat usahanya yang penuh kesabaran. Sedang ia termenung, secara kebetulan ia melihat seberkas cahaya di arah Timur. Cahaya itu bergerak mendekati kapal. Sambil memandang keheran-heranan, Uskup melihat tiga sosok tubuh manusia berjalan di atas air, menuju ke kapal. Kapten kapal menghentikan kapalnya dan semua pelaut berjejal-jejal di pinggir geladak untuk melihat pemandangan ajaib itu.

Ketika mereka sudah dekat, barulah Uskup mengenali tiga sahabatnya, para nelayan dulu. “Bapak Uskup,” seru mereka, “Kami sangat senang bertemu dengan Bapak lagi. Kami dengar kapal Bapak melewati pulau kami, maka cepat-cepat kami datang.”

“Apa yang kamu inginkan?” tanya Uskup tercengang-cengang.

“Bapak Uskup,” jawab mereka, “Kami sungguh-sungguh amat menyesal. Kami lupa akan doa yang bagus itu. Kami berkata: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu ... lantas kami lupa. Ajarilah kami sekali lagi seluruh doa itu.”

Uskup merasa rendah diri. “Sudahlah, pulang saja, saudara-saudaraku yang baik. Dan setiap kali kamu berdoa, katanlah saja: kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami. Amin.”
 Ã°   Aku kadang-kadang melihat wanita-wanita tua berdoa rosario tak habis-habisnya di gereja. Bagaimana mungkin Tuhan dimuliakan dengan suara berguman yang tidak keruan ini? Tetapi setiap kali aku melihat mata mereka atau memandang wajah mereka menengadah, di dalam hati aku tahu bahwa mereka lebih dekat dengan Tuhan daripada banyak orang terpelajar.

 Ã°  Dari dulu doa umat di kelompok selalu diidentikkan dengan rosario. Dalam doa itu aku melihat adanya keterlibatan semua umat, dari yang usia 5 tahun sampai yang usia 60-an tahun. Sebagai imam muda yang mendapat banyak ilmu di sekolah aku mau membuat perubahan agar tidak ada kebosanan. Lalu aku “memaksakan” pertemuan dengan sharing Kitab Suci. Yang datang mulai berkurang. Anak-anak dan orang tua pun lebih memilih diam.

by: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya: