Rabu, 06 Juni 2012

Orang Kudus 6 Juni: St. Norbertus


Santo norbertus, uskup dan pengaku iman
Norbertus adalah putera kedua dari Heribertus, seorang tuan tanah di wilayah Gennep. Perawakannya tinggi kekar, pintar dan ramah tamah. Masa mudanya dijalaninya dengan sungguh menyenangkan. Ia bercita-cita menjadi imam untuk mengabdikan dirinya semata-mata kepada Tuhan.

Karena itu, ia ditahbiskan menjadi diakon. Akan tetapi lambat laun hatinya tertarik kepada kesenangan duniawi; ia mulai meninggalkan hidup bakti kepada Tuhan dan pergi ke istana kaisar Jerman, Hendrik V. Di sana ia hidup sebebas-bebasnya tanpa mengindahkan lagi hukum-hukum Allah. Ia sungguh-sungguh mau menikmati kesenangan-kesenangan duniawi sepuas-puasnya.

Tapi semua yang dialami Norbertus tidak mengaburkan rencana Tuhan atas dirinya. Pada usia 30 tahun, ia mengalami suatu peristiwa ajaib dari Tuhan. Ketika sedang bepergian ke suatu tempat maksiat, ia terlempar ke tanah oleh kilat dari langit yang mengenai wajahnya. Ia terjatuh dari kudanya dan tidak sadarkan diri. Ketika mulai sadar lagi, ia bertobat dan menyesali perbuatannya yang bejat. Allah kembali menunjukkan keagungan-Nya atas diri Norbertus dengan cahaya-Nya yang ilahi.

Semenjak peristiwa itu, Norbertus kembali menjalankan latihan rohani yang keras di bawah pimpinan seorang Abbas Benediktin. Ia pun belajar dengan tekun hingga ditahbiskan menjadi imam. Sebagai seorang imam, ia juga bertugas mewartakan Injil dengan mengajar dan berkotbah. Tetapi karena kebejatan hidup masa lalunya yang tidak patut dicontoh, ia dianggap sebagai seorang munafik.

Atas izin Sri Paus, Norbertus berangkat ke Prancis dan berkarya di sana sebagai seorang imam di tengah-tengah umat sederhana di pedalaman. Harta bendanya dibagi-bagikan kepada kaum miskin dan ia sebaliknya menggantungkan hidupnya pada kebaikan hati para dermawan. Hidupnya yang miskin, saleh dan bersemangat rasul itu menarik banyak murid kepadanya. Atas anjuran Sri Paus, ia menetap di sebuah lembah sunyi di Prancis, yang disebut Premontre. Di lembah ini, ia mendirikan sebuah biara yang bertugas mendidik dan memberi imam-imam yang saleh lagi cakap kepada umat terutama yang ada di pedalaman. Semangat pengabdiannya membawa umat kepada semangat hidup yang sesuai dengan cita-cita Injil dan mempertinggi ketertiban hidup iman di seluruh Eropa.

Pada waktu itu timbullah di Antwerpen sebuah bidaah yang menolak kekudusan Sakramen Mahakudus. Penganut aliran ini pernah menanamkan Hosti Kudus di dalam tanah yang kotor. Norbertus mendengar tentang peristiwa itu, dan meminta agar orang menunjukkan tempat itu kepadanya. Lalu ia segera pergi ke tempat itu untuk mengambil kembali Hosti yang dikuburkan itu. Hosti itu masih dalam keadaan utuh, putih tanpa kerusakan dan cacat sedikitpun. Oleh sebab itulah St Norbertus dilukiskan dengan sebuah Monstran atau Sibori.

Pada tahun 1126, Norbertus ditahbiskan menjadi uskup agung di Maagdenburg, Jerman. Di sana ia melanjutkan pekerjaannya memulihkan ketertiban di dalam Gereja dan memperbaiki taraf hidup rohani para imam. Setelah banyak berjuang demi penyebaran Injil, Norbertus meninggal dunia pada tahun 1134.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Bahaya Rokok

Tahukah anda:
Dengan merokok di tempat umum
Anda telah mencelakakan orang lain yang tidak merokok.

Malah, orang yang tidak merokok itu menanggung derita yang lebih parah dari yang merokok.
Karena itu:
Berhentilah merokok
atau
Telanlah asap rokokmu!

by: adrian

Renungan Hari Rabu Biasa IX - Thn II

Renungan Hari Rabu Biasa IX B/II
Bac I       : 2Tim 1: 1 – 3, 6 - 12 ; Injil            : Mrk 12: 18 – 27

Sesat! Dua kali kata itu digunakan Yesus, di awal pernyataan-Nya dan di akhir pernyataan-Nya. Kesesatan itu disebabkan adanya semacam pemaksaan kehendak.
Dalam bacaan Injil kesesatan terjadi pada orang-orang Saduki. Kesesatan itu berkaitan dengan kebangkitan. Orang Saduki tidak percaya adanya kebangkitan. Ini bisa terjadi karena mereka memahami kehidupan yang salah. Artinya, mereka berpikir bahwa kehidupan di dunia ini sama saja dengan kehidupan di surga. Dan mereka memaksakan pemikirannya itu. Mereka tidak paham akan kehidupan lain setelah kematian; bahwa kehidupan lain setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan sebelum kematian.
Itulah gambaran yang mau disampaikan Tuhan hari ini. Ketidakmengertian akan sesuatu tapi tidak diakui dan malah dianggap seolah-olah sudah mengerti sehingga menghasilkan pemahaman dan pengajaran yang salah atau sesat. Kata "sesat" dalam Injil bisa juga diartikan dengan kata "bodoh".
Dalam kehidupan kita pun sering kali terjadi kita memaksakan kehendak atau pemikiran kita dengan mengatas-namakan sebuah kebenaran lain. Tak jarang orang berkata bahwa Gereja menghendaki ini dan itu, padahal dirinyalah yang mau. Orang suka memakai agama atau malah Tuhan untuk melegalkan aksinya. Gereja dilarang, seminari dihambat, Ahmadiyah ditekan, dll, semuanya dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan. Bahkan orang membunuh pun mendapatkan pembenarannya dalam nama Tuhan.
Terkadang kita menilai orang lain salah dengan mengacu pada kebenaran kita sendiri. Kita tidak atau belum memahami kebenaran orang lain, tapi kita langsung mengukurnya dengan ukuran kita sendiri. Ironisnya, terkadang ukuran itu adalah benar-benar ukuran kita sendiri yang mengatas-namakan ukuran benar.

Di sinilah sabda Tuhan hari ini menjadi relevan bagi kita. Tuhan menghendaki agar kita jangan sampai berpikir sesat. Langkah awal yang bisa kita tempuh adalah dengan tidak memaksakan kehendak atau pikiran. Tetapi dengan rendah hati berusaha menggali dan menemukan kebaikan dalam kebenaran yang ada di luar diri kita.
by: adrian