Injil Adalah Kabar Baik
Injil artinya kabar baik. Diterjemahkan dari kata Yunani euaggelion (baca: euanggelion), pada mulanya kabar baik yang dimaksud bermakna umum,
yakni semua berita gembira yang secara resmi disampaikan oleh
pemerintah kepada rakyatnya. Naiknya seorang raja ke atas singgasana kerajaan,
lahirnya putra raja, kemenangan di
medan perang, penghapusan utang,
keringanan pajak, dan pemberian amnesti merupakan beberapa contoh kabar baik
yang dibawa, disebarkan, dan diumumkan oleh utusan-utusan raja, yang tentunya
menghadirkan sukacita bagi
seluruh rakyat.
Ketika Yesus hadir dan berkarya di dunia, Injil memperoleh makna baru,
yakni kabar baik yang diwartakan-Nya tentang kedatangan
Kerajaan Allah (Mat. 4:23; Mrk. 1:15). Yesus menggenapi apa yang disampaikan Nabi Yesaya tentang
pemerintahan Allah yang menghadirkan damai sejahtera, kegembiraan, dan
keselamatan bagi manusia (Yes. 52:7). Agar mengalami
pengampunan dosa, pemulihan, keselamatan kekal, dan damai sejati, manusia diundang untuk
bertobat, percaya, dan membuka
diri pada kabar baik yang dibawa-Nya itu.
Setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, pewartaan Injil dilanjutkan oleh para rasul,
dan di sini makna Injil
kembali mengalami perkembangan. Injil
kemudian dimengerti sebagai kabar baik yang diwartakan para rasul
mengenai Yesus yang adalah Mesias
(Kis. 5:42). Dari pembawa
kabar baik, Yesus menjadi isi dari kabar baik itu sendiri. Injil yang
diwartakan para rasul adalah kabar baik bahwa Allah mengerjakan karya
keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus yang telah mati, dikuburkan, dan dibangkitkan untuk menebus dosa-dosa
manusia. Keselamatan akan dialami oleh mereka yang mengimani Yesus, melakukan
segala sesuatu yang diajarkan-Nya, serta dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:20; Mrk. 16:16).
Ketika sejumlah pihak kemudian menuliskan kesaksian mereka tentang hidup dan karya-karya Yesus, Injil pada akhirnya juga merujuk pada jenis sastra tertentu. Kesaksian tertulis ini dirasa perlu untuk dibuat demi menjaga keautentikan iman yang mau diwartakan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, mengingat pada waktu itu para saksi mata mulai berpulang satu demi satu. Melalui kitab-kitab Injil, ditegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, Anak Allah, dan Juru Selamat dunia. Semua orang diundang untuk percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan Allah melalui Dia. Berbagai tulisan yang disebut Injil ditulis dalam kurun waktu abad pertama sampai abad kedua Masehi. Dari tulisan-tulisan tersebut, Gereja menetapkan empat Injil sebagai kanonik, yang berarti mengesahkan bahwa kitab-kitab tersebut memuat kisah hidup Yesus, beserta segala karya dan ajaran-ajaran-Nya, dengan benar dan dapat dipercaya. Keempat Injil tersebut adalah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Mengenal Injil Matius
Berada di posisi
pertama di depan Injil-Injil yang lain, sekaligus menjadi kitab yang membuka dan mengawali Perjanjian Baru, Injil Matius adalah Injil yang
sangat terkenal dan menjadi kesayangan segenap umat Kristen. Arti penting Injil Matius sudah dirasakan sejak dahulu oleh umat Kristen
pada masa awal,
dimana mereka menjadikan Injil ini sebagai pegangan dan pedoman hidup, baik
secara pribadi maupun dalam berkomunitas. Sebagai Injil
yang terpanjang, Injil
Matius dipandang menyajikan informasi yang lengkap tentang
hidup dan karya-karya Yesus, sehingga menyuburkan iman kristiani dan memperkaya pengenalan Gereja akan Dia. Tidak mengherankan bahwa Injil
ini selalu menjadi salah satu rujukan utama bagi siapa saja yang berbicara
tentang kekristenan. Pada abad kedua,
bahkan diketahui bahwa Injil Matius
merupakan kitab yang sangat berpengaruh dan paling sering dikutip dalam tulisan-tulisan
kristiani yang beredar pada masa itu, misalnya saja Didakhe, Melawan Ajaran Sesat karya Irenaeus,
surat-surat Ignasius dari Antiokhia, tulisan-tulisan apologetis Yustinus
Martir, dan sebagainya. Para penulis sangat mengapresiasi Injil
Matius karena susunannya yang sistematis, keterkaitannya yang kuat dengan tradisi Yahudi,
dan terutama karena isinya yang begitu kaya akan ajaran Yesus.
Menurut tradisi, penulis Injil ini adalah Matius, salah seorang
dari kedua belas murid Yesus yang adalah mantan pemungut
cukai (Mat. 9:9) dan memiliki
nama lain Lewi (Mrk. 2:14; Luk. 5:27). Pandangan ini bersumber dari pernyataan
Papias, uskup Hierapolis, sekitar tahun 130 sebagaimana dicatat oleh Eusebius,
uskup Kaisarea, pada abad ke-4. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan studi
Kitab Suci, diketahui bahwa semua Injil mula-mula beredar
secara anonim, tidak mencantumkan nama penulisnya. Pemberian judul yang
mengacu pada nama penulis baru muncul dalam salinan-salinan
kuno pada masa kemudian, dan sifatnya adalah atributif. Menyangkut Injil Matius,
hal itu berarti
besar kemungkinan Injil
ini tidak ditulis
oleh Matius, tetapi
dengan alasan-alasan tertentu
dikaitkan dengan dirinya sebagai salah seorang murid Yesus.
Identitas asli sang penulis sendiri
tidak dapat dipastikan, namun sejumlah hal dari Injil yang disusunnya menunjukkan bahwa
dia ini kiranya seorang Yahudi
yang kemudian beriman
kepada Yesus dan memeluk
kekristenan. Dia agaknya hidup di lingkungan Yahudi (bdk. Mat. 16:19), pandai
berkhotbah (bdk. Mat. 5:13-16), berani mengecam keras orang Yahudi yang menolak
Yesus (bdk. Mat. 27:25), serta menguasai Perjanjian Lama dan tradisi
Yahudi dengan sempurna
(bdk. Mat. 4:12-17). Berdasarkan itu, penulis Injil ini kemungkinan adalah
seorang rabi yang memiliki pengalaman rohani yang
mendalam, serta mampu berpikir dengan cermat, jelas,
dan teratur. Kesaksian tertulis akan Yesus disusunnya
bagi jemaat Kristen Yahudi generasi kedua yang
berbahasa Yunani.
Injil Matius diperkirakan ditulis
sekitar tahun 80. Meski
ditempatkan di posisi pertama,
Injil ini bukanlah Injil tertua, sebab sudah ada Injil Markus yang ditulis dan beredar
terlebih dahulu sekitar tahun 70. Tempat penulisan Injil Matius diperkirakan di Antiokhia, Siria, dan secara
khusus, Injil ini ditujukan kepada jemaat Kristen Yahudi yang berada di situ.
Mereka sebagian besar adalah orang sederhana (bdk. Mat. 19:21-22), dan sudah memiliki pola kehidupan yang
teratur sebagai jemaat kristiani (bdk.
Mat. 14:13-21; 15:32-39; 18:20). Jemaat saat itu sedang
mengalami konflik yang serius dengan
orang Farisi (bdk.
Mat. 6:5). Setelah
kehancuran Bait Allah di Yerusalem, kedudukan dan pengaruh
orang Farisi menjadi makin kuat. Becermin
dari tragedi besar yang menimpa
Yerusalem tahun 70 akibat serbuan
dari pasukan Romawi,
mereka menekankan pentingnya
ketaatan terhadap Taurat dan tradisi leluhur sebagai jalan agar bangsa itu
senantiasa disertai Tuhan, sehingga
terhindar dari segala malapetaka dan
bencana. Karena mengimani Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang telah datang
ke dunia dan akan kembali kelak di masa depan, keberadaan jemaat Kristen mereka
tolak. Sebagai dampaknya, orang-orang yang beriman kepada Yesus ditentang,
dimusuhi, dan disingkirkan dari
peribadatan dan kehidupan sosial. Rumah-rumah ibadat Yahudi menutup
pintu bagi kehadiran mereka. Usaha mewartakan kabar baik
kepada sesama orang Yahudi dengan demikian menemui jalan buntu.
Injil Matius sebagai Injil Sinoptik
Ketika membaca Injil
Matius, dengan segera kita pasti akan menyadari adanya perikop-perikop yang
dapat ditemukan pula dalam Injil Markus dan Injil Lukas, meskipun isinya tidak
persis sama. Pengajaran tentang Doa Bapa Kami, misalnya, ada di Mat. 6:9-13 dan
Luk. 11:2-4. Kisah mukjizat dibangkitkannya putri kepala rumah ibadat dari kematian
dan kesembuhan perempuan yang sakit pendarahan malah dimuat dalam tiga Injil
sekaligus, yakni di Mat. 9:18-26; Mrk. 5:21-43; dan Luk. 8:40-56. Karena kesejajaran itu, Injil Matius, Markus, dan Lukas
disebut Injil Sinoptik.
Secara harfiah, sinoptik
artinya “melihat bersama”
atau “melihat secara
bersama-sama”. Injil Matius, Markus, dan Lukas disebut Injil Sinoptik karena
jika dibandingkan secara paralel akan tampak bahwa ketiganya menampilkan kisah yang sama dengan
versi atau penekanannya masing-masing. Kesejajaran
terlihat jelas dalam hal urutan peristiwa, struktur cerita, isi narasi, serta kata-kata
yang digunakan. Menurut para ahli, sekitar 50% isi Injil Matius sejajar dengan Injil Markus, 25% sejajar hanya dengan Injil Lukas, sedangkan 25% selebihnya khas Injil Matius dalam arti hanya ditemukan
dalam Injil ini saja.
Hal itu terjadi karena penulis Injil Matius bukanlah saksi mata
akan hidup dan karya-karya Yesus. Karena itu, dalam menuliskan kesaksian
imannya, ia bersandar pada sumber-sumber tepercaya yang sudah beredar luas di
kalangan jemaat Kristen saat itu (bdk. Luk. 1:1-4). Olehnya, materi dari
sumber-sumber tersebut dipilah, dipilih, diteliti, diolah, lalu dirangkai dengan
saksama, hingga menjadi
satu tulisan yang utuh dan teratur.
Sumber utama penulisan Injil Matius adalah Injil Markus. Ada
begitu banyak perikop Injil Markus
yang dimuat kembali
dalam Injil Matius,
tentu dengan sejumlah
perbedaan di sana-sini. Urutan kisah sepanjang Mat. 12:1 – 28:10 bahkan umumnya
mengikuti Mrk. 2:23 – 16:8, sehingga sejajar dengannya.
Kesejajaran yang terjadi
hanya dengan Injil Lukas mengandaikan rujukan
pada sumber yang sama oleh kedua penulis Injil. Sumber yang merupakan
hipotesis, sehingga bentuk fisiknya tidak diketahui ini oleh para ahli diberi julukan Q (inisial dari quelle, kata dalam bahasa Jerman yang juga berarti “sumber”). Meskipun
sama-sama mengambil materi dari sumber Q, Matius dan Lukas tidak saling kenal,
menulis di tempat terpisah, dan bekerja
secara independen. Itu sebabnya materi
yang sumbernya sama tersebut
bisa jadi bentuk akhirnya berbeda, baik dari segi isi maupun letak, tidak lain
karena disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang jemaat masing-masing.
Sebagai contoh, bisa disebutkan kembali Doa Bapa Kami di Mat. 6:9-13
dan Luk. 11:2-4.
Selain isinya tidak persis sama, dalam Injil Matius doa ini disampaikan Yesus sebagai bagian dari khotbah di bukit, sedangkan
dalam Injil Lukas diajarkan oleh-Nya dalam rangka memenuhi permintaan salah
seorang murid.
Sementara itu, bagian-bagian berupa ayat maupun
perikop yang khas Matius
disebut materi M. Materi M ini kemungkinan berasal dari tradisi lisan di
kalangan jemaat, sehingga umumnya bersifat populer (mis. mimpi istri Pilatus,
Mat. 27:19), meskipun terbuka pula kemungkinan
adanya sumber-sumber tertulis
yang tidak lagi terpelihara. Penulis Injil Matius menggabungkan materi-materi tersebut ke dalam
Injil yang disusunnya (mis.
kisah tentang orang-orang majus, Mat. 2:1-12),
menambahkannya pada sabda-sabda Yesus yang dihimpun
dari sumber-sumber lain (mis.
tentang memberi sedekah,
Mat. 6:1-3, yang menjadi bagian
dari khotbah di
bukit), serta menyisipkannya pada sejumlah kisah (mis. dalam kisah sengsara, Pilatus dikatakan membasuh
tangannya ketika mengadili Yesus, Mat. 27:24).
Ciri Khas Injil Matius
Dengan proses penyusunan seperti itu, meskipun mengandung banyak
kesejajaran, masing-masing Injil Sinoptik memiliki kekhasannya sendiri, tidak terkecuali Injil Matius. Penulis Injil Matius menyusun
kabar baik sekaligus kesaksiannya tentang Yesus dalam lima bagian besar yang masing-masing terdiri atas pasangan
narasi dan pengajaran. Ia menjadikan kisah masa kanak-kanak Yesus sebagai pengantar, sedangkan
kisah sengsara, kematian, kebangkitan, serta misi perutusan dari Yesus
menjadi klimaks atau puncaknya.
Karena sering mengutip Perjanjian Lama, Injil Matius disebut
bergaya Yahudi. Salah satu contohnya adalah Mat. 3:1-3, dimana ketika
berbicara tentang Yohanes Pembaptis, penulis mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang
hadirnya seseorang yang menyerukan agar jalan bagi Tuhan
dipersiapkan (Yes. 40:3). Kutipan-kutipan itu juga membuat Injil Matius sering dijuluki sebagai Injil
Penggenapan, sebab banyak di antaranya menyatakan
bahwa apa yang terjadi menggenapi nubuat Perjanjian
Lama (“supaya digenapi
yang difirmankan Tuhan melalui nabi”, lih. Mat. 1:22; 2:15,17,23; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35; 21:4; 27:9). Dengan ini, Injil Matius merefleksikan dalam terang
Perjanjian Lama untuk menunjukkan
kepada jemaat bahwa seluruh hidup dan karya-karya-Nya merupakan penggenapan
rencana penyelamatan yang dikerjakan Allah.
Selain menyusun bagian demi
bagian dalam Injilnya secara teratur, penulis juga menghadirkan suasana yang agung dan sakral di dalamnya. Lihatlah bagaimana dia menyusun perikop tentang
khotbah di bukit, dimana sebelum menyampaikan sabda-sabda bahagia, Yesus digambarkan naik ke atas bukit, lalu duduk,
disusul oleh para murid yang datang kepada-Nya (Mat. 5:1-3).
Setelah semua mengambil sikap selayaknya seorang murid dan siap untuk mendengarkan, mulailah Yesus mengajar
mereka dengan penuh kuasa. Betapa
besar kuasa Yesus memang sangat
ditekankan dalam Injil Matius, antara lain dengan menggandakan apa yang
dikatakan Injil Markus. Dalam Injil Markus, Yesus menghadapi seorang yang kerasukan roh jahat (Mrk. 5:1-20); dalam Injil Matius,
yang kerasukan setan ada dua orang (Mat. 8:28-34). Dalam Injil Markus,
Yesus dikisahkan menyembuhkan seorang buta bernama Bartimeus (Mrk 10:46-52); dalam
Injil Matius, yang disembuhkan Yesus dari kebutaan
ada dua orang (Mat. 20:29-34).
Perubahan detail dari Injil Markus juga dilakukan oleh penulis
Injil Matius untuk menyatakan rasa hormatnya terhadap
Yesus dan menegaskan
keilahian-Nya. Sebagai contoh, dalam kisah Yesus
meredakan angin ribut di
tengah danau, Injil Matius sekadar mengatakan bahwa “Yesus
tidur” (Mat. 8:24), alih-alih “Yesus sedang tidur … memakai bantal” (Mrk. 4:38). Yesus pun disebut “anak tukang
kayu” (Mat. 13:55), bukannya “tukang kayu” (Mrk. 6:3). Selain itu, perkataan
keluarga Yesus bahwa “Ia
tidak waras lagi” (Mrk. 3:21) tidak dikutip dalam Injil Matius yang langsung berbicara tentang kedatangan ibu dan saudara-saudara Yesus untuk menjumpai
Dia (Mat. 12:46-50; bdk. Mrk. 3:31-35).
Penggambaran konflik tajam antara Yesus dan orang Yahudi, terutama orang Farisi, patut disebutkan juga sebagai ciri khas Injil Matius. Orang Farisi digambarkan menolak
Yesus, sangat memusuhi Dia, berusaha dengan segala upaya untuk
menjatuhkan Dia (Mat. 16:1; 19:3; 22:15), bahkan merancang
pembunuhan terhadap-Nya (Mat. 12:14). Yesus pun dalam tanggapan-Nya bersikap
keras terhadap orang Farisi dengan
menyebut mereka sebagai orang-orang
munafik yang manis di bibir, tetapi hatinya penuh dengan
kejahatan (Mat. 15:7-9; bdk. 16:6; 23:2).
Penggambaran itu terkait
erat dengan situasi
jemaat yang dituju oleh Injil Matius, dimana karena
kuatnya pengaruh orang Farisi, mereka mulai disingkirkan
dari peribadatan dan kehidupan sosial masyakakat Yahudi. Karena itu, meskipun
ditujukan kepada jemaat Kristen Yahudi (Mat. 10:5-6),
Injil Matius juga menunjukkan keterbukaan terhadap bangsa-bangsa asing, misalnya dengan menghadirkan para
majus sebagai orang-orang pertama yang
menyambut kelahiran Yesus (Mat. 2:1-2), mengisahkan pelarian Keluarga Kudus ke
Mesir (Mat. 2:14-15), serta dengan
menampilkan amanat agung Yesus yang mengutus para murid untuk menjadikan semua
bangsa sebagai murid-Nya (Mat. 28:19). Injil Matius adalah saksi akan
kekristenan yang mulai meninggalkan keterikatannya pada keyahudian.
Penolakan orang Yahudi mendorong mereka bergerak keluar
untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.
Yesus dalam Injil Matius
Kepada jemaatnya yang adalah orang Kristen Yahudi, penulis Injil Matius
hendak memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dalam diri-Nya digenapi
janji-janji Allah di masa lampau
yang disampaikan-Nya melalui
nubuat para nabi. Anggur yang baru memiliki hubungan erat dengan anggur
yang lama, dan hal itu tampak jelas dalam
hidup, karya, dan ajaran-ajaran Yesus. Namun, memahami
pribadi Yesus bukanlah
hal yang mudah bagi orang Yahudi.
Siapakah Yesus sebenarnya? Apakah Dia ini Yohanes
Pembaptis yang hidup kembali (Mat. 14:1-2)? Ataukah
Dia ini nabi besar yang baru,
sekelas dengan nabi-nabi besar Perjanjian Lama seperti Elia dan Yeremia (Mat.
16:14)? Bagaimana mungkin Yesus mengutip firman Allah,
lalu berkata, “Namun,
Aku berkata kepadamu” (mis. Mat. 5:43-44)? Siapakah Dia, sehingga berani memperluas
dan memperdalam sepuluh firman Allah yang diberikan-Nya sendiri
kepada umat melalui Musa di
Gunung Sinai (mis. Mat. 5:21-22,27-28)? Injil Matius berupaya menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu dengan menampilkan sosok Yesus dalam berbagai sudut
pandang.
Yesus adalah Imanuel. Melalui kisah pemberitaan malaikat Tuhan terhadap Yusuf, Injil
Matius menyatakan bahwa Yesus adalah Imanuel yang berarti “Allah beserta kita”
(Mat. 1:22-23). Kelahiran-Nya menggenapi dengan sempurna nubuat yang
disampaikan Nabi Yesaya (Yes. 7:14). Lebih dari sekadar
nama, gelar Imanuel
menyingkapkan identitas Yesus sebagai
Allah yang menyertai manusia.
Penyertaan ini diwujudkan Yesus melalui tindakan-tindakan-Nya, dimana Ia
memberikan pengajaran, mengampuni dosa, menyembuhkan mereka
yang sakit, serta mengusir roh jahat. Yesus dengan itu
membawa kabar baik bagi manusia dan menunjukkan bahwa Allah tidak pernah
melupakan umat-Nya. Penyertaan Allah juga ditunjukkan dalam keberpihakan Yesus terhadap orang-orang
kecil, yakni mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit,
berada di penjara, serta
orang asing (Mat. 25:31-46). Yesus bahkan mengidentifikasi diri-Nya sebagai orang-orang tersebut, sehingga “segala sesuatu yang telah
kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku” (Mat. 25:40).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ia hadir dalam setiap perjumpaan dengan sesama. Penggenapan penuh akan makna Imanuel
terjadi di bagian
akhir Injil Matius, dimana
Yesus ketika mengutus para murid-Nya menyatakan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
akhir zaman” (Mat. 28:20). Yesus yang adalah “Allah beserta kita” selalu menyertai para murid dan
orang-orang yang beriman kepada-Nya, sehingga keseluruhan Injil Matius sesungguhnya adalah kisah tentang
Allah yang menyertai
manusia dalam diri Yesus.
Yesus adalah Mesias.
Mesias atau Kristus artinya
“Yang Diurapi”. Dalam Perjanjian Lama, Allah berjanji
kepada Daud bahwa Ia akan membangkitkan
keturunan baginya, dan bahwa dinasti serta kerajaannya akan teguh untuk
selama-lamanya (2Sam. 7:10-16). Akan tetapi, kerajaan
Daud mengalami perpecahan tahun 931 SM (1Raj. 12:1-24), lalu runtuh
tahun 587 SM (2Raj. 25:1-21). Karena Allah pasti menepati janji-Nya, bersemilah
pengharapan di hati umat Israel akan kedatangan Mesias, dia yang diurapi
menjadi raja untuk meneruskan tampuk pemerintahan Daud, bapa leluhurnya (bdk. Yes. 11:1-10).
Injil Matius menegaskan bahwa pengharapan
itu digenapi dalam diri Yesus. Hal ini dinyatakan di bagian paling awal yang
menampilkan silsilah Yesus: Yesus disebut sebagai Kristus, dan Dia ini adalah
anak Daud (Mat. 1:1). Dalam diri Yesus digenapi semua nubuat Perjanjian Lama tentang Mesias
yang dijanjikan Allah kepada
umat-Nya, misalnya bahwa Ia akan dilahirkan di Betlehem (Mat. 2:5-6; bdk. Mi. 5:1), serta akan mengungsi ke Mesir, lalu kembali dari sana
(Mat. 2:14-15; bdk. Hos. 11:1). Kuasa Yesus yang sangat besar sebagai Mesias tampak dalam pengajaran-pengajaran yang disampaikan-Nya, serta dalam mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Semuanya
itu mengantar Petrus pada
pengakuan yang tulus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat.
16:16). Namun, berbeda dengan pengharapan orang Yahudi yang menantikan
datangnya Mesias sebagai seorang pemimpin politik yang jaya, Yesus adalah Mesias yang menghadirkan keselamatan kekal. Ia menebus dan menyelamatkan manusia
dari dosa (Mat. 1:21; 8:17) melalui penderitaan dan
kematian-Nya (Mat. 27:32-54). Lebih dari itu, dengan menampilkan kisah pengutusan para murid kepada segala bangsa (Mat. 28:19-20), Injil Matius
menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias bagi semua orang, bukan bagi
orang Yahudi saja.
Yesus adalah Anak Allah. Gelar anak Allah dalam Perjanjian
Lama biasanya merujuk pada bangsa Israel secara kolektif (mis. Kel.
4:22-23), juga pada raja Israel sebagai
simbol perjanjian antara Allah dan umat-Nya (mis. Mzm. 2:7). Injil Matius
menerapkan gelar ini kepada Yesus, tetapi dengan makna yang berbeda: Yesus adalah Anak Allah karena Dia memiliki hakikat ilahi.
Mulai dari awal hingga akhir pelayanan Yesus, hal itu diungkapkan secara
gamblang. Keilahian Yesus
dinyatakan dalam kisah
kelahiran-Nya ketika malaikat berkata kepada Yusuf bahwa anak yang berada dalam kandungan Maria adalah dari Roh
Kudus (Mat. 1:20). Saat Yesus dibaptis, Bapa sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah
Anak-Nya dengan berkata,
“Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17; juga dalam peristiwa transfigurasi,
lih. Mat. 17:5). Berbagai pihak mengakui
bahwa Yesus adalah
Anak Allah, termasuk
para murid (Mat. 14:33), para lawan (Mat.
27:54), bahkan Iblis ketika mencobai Dia (Mat. 4:3,6). Karena
sungguh Anak Allah,
dalam istilah Petrus:
“Anak Allah yang hidup” (Mat.
16:16), Yesus mempunyai kuasa yang sangat
besar. Dengan memberitakan hadirnya Kerajaan Surga (Mat. 4:17), Yesus
yang adalah Anak Allah sesungguhnya hendak mendamaikan dan membawa
manusia kembali ke dalam persatuan dengan Allah yang adalah Bapa-Nya.
Selain gelar-gelar yang dikemukakan di atas, Injil Matius juga
menyebut Yesus sebagai
Anak Manusia (Mat. 8:20; 9:6), anak Daud (Mat.
1:1; 9:27), anak Abraham (Mat. 1:1), nabi (Mat. 13:57; 16:14; 21:11),
raja (Mat. 2:2; 27:37), termasuk sebagai guru yang akan segera kita bahas secara khusus.
Beragam gelar yang disandangkan pada Yesus tersebut
menunjukkan bahwa Dia lebih besar dari
apa pun yang bisa kita pahami tentang-Nya. Tidak ada satu gelar pun yang secara
memadai dapat menggambarkan keseluruhan diri Yesus: Dia ini nabi tetapi lebih
dari sekadar nabi, Dia ini raja tetapi
lebih dari sekadar
raja, begitu pula dengan julukan-julukan lainnya. Bagaikan sebuah
mosaik, apa yang kita ketahui tentang Yesus adalah kepingan-kepingan kecil yang
perlu disatukan dan dilihat
secara keseluruhan sebagai sebuah
gambaran besar apabila
kita ingin mengenal diri-Nya secara utuh.
Meskipun beragam, gelar-gelar tersebut memiliki benang
merah yang menghubungkan semuanya, yakni kuasa. Kuasa boleh dibilang
merupakan kata kunci untuk seluruh penggambaran akan Yesus dalam Injil Matius.
Sebagai Anak Allah,
Yesus penuh kuasa,
sebab, “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku”
(Mat. 11:27). Sebagai
Mesias, kuasa Yesus tampak
dalam tindakan-Nya mengusir setan dan roh-roh jahat “dengan sepatah kata” (Mat. 8:16), sesuatu yang tidak dinyatakan dalam
Injil Markus yang merupakan sumber dari kisah ini (Mrk. 1:34). Sebagai Anak
Manusia, Yesus memiliki kuasa untuk menentukan apakah seseorang diterima
dalam Kerajaan Surga atau tidak (Mat. 25:31-46). Amanat agung yang ada di penghujung Injil Matius merangkum
semuanya itu, dimana Yesus menyatakan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga
dan di bumi” (Mat. 28:18).
Inilah penegasan dari Injil Matius bahwa Yesus memiliki kuasa yang mutlak dari Allah, yang mencakup segalanya. Ketika memandang Yesus dalam Injil
Matius, sesungguhnya kita sedang
berjumpa dengan wajah Allah.
Yesus adalah Seorang Guru
Pelayanan Yesus di tengah-tengah umat tidak berlangsung lama, kemungkinan hanya sekitar dua sampai tiga tahun saja. Meskipun demikian, banyak hal telah dilakukan-Nya, salah satunya yang paling menonjol adalah memberikan pengajaran. Hal
ini tidak luput dari pengamatan penulis Injil Matius,
sehingga sosok Yesus
sebagai guru juga ditampilkan
olehnya. Masyarakat melihat Yesus sebagai guru (Mat. 9:11; 17:24), menyapa-Nya secara
langsung demikian (Mat. 8:19; 12:38; 22:16,24,36), bahkan dengan
istilah dalam bahasa
Ibrani, yakni rabi (Mat 26:25,49). Bahwa Yesus sungguh seorang
guru tampak dalam pengajaran-pengajaran yang disampaikan-Nya di berbagai tempat,
antara lain di rumah-rumah (Mat. 9:10), di rumah ibadat
(Mat. 4:23), di Bait Allah (Mat. 21:23),
di jalan (Mat. 12:1), di tepi danau (Mat. 13:1-3),
juga di bukit (Mat. 5:1). Mengajar kiranya merupakan bentuk pelayanan yang
penting bagi Yesus, sehingga kapan pun ada
kesempatan, tanpa segan Ia
akan memberikannya kepada orang-orang
yang dijumpai-Nya.
Guru seperti apakah Yesus, dan apa yang diajarkan-Nya? Perlu
diketahui bahwa rabi menjadi suatu
jabatan resmi baru dalam Yudaisme modern yang berkembang setelah
kehancuran Bait Allah tahun 70. Pada
saat itu, gerakan rabinik tumbuh dengan pesat, lebih sistematis dari sebelumnya dengan munculnya lembaga-lembaga yang menghimpun para rabi, sehingga sangat mapan dan
menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Berbeda dengan itu, pada masa
Yesus, guru atau rabi adalah sebuah gelar kehormatan. Siapa pun bisa disapa sebagai rabi sejauh masyarakat memandang dirinya istimewa, terpelajar,
mumpuni, atau berhikmat. Contohnya adalah para ahli Taurat
dan orang Farisi yang secara
umum disebut rabi (Mat. 23:2-7), serta Yohanes Pembaptis yang disapa rabi oleh
para muridnya (Yoh. 3:26).
Yesus pun demikian. Dia adalah rabi bukan
karena menjadi bagian dari apa yang kemudian disebut kaum rabinik, juga bukan
karena mengajarkan hukum Taurat setelah
tuntas mempelajarinya secara formal di sekolah. Orang banyak
memandang Yesus sebagai rabi karena kuasa dan karisma-Nya yang sangat besar
(Mat. 7:28-29). Sebagai guru, Yesus kiranya
lebih menyerupai guru-guru
kebijaksanaan dalam tradisi
hikmat Yahudi. Hal ini tampak misalnya
dalam pengajaran-Nya yang
berdasarkan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari (Mat. 16:1-4),
ajaran-ajaran yang berbentuk perumpamaan (Mat. 13:1-23), penekanan pada
pentingnya hati yang murni (Mat. 23:25-28), serta ajakan untuk takut akan Allah (Mat. 10:28).
Bukan berarti tidak
mengajarkan hukum Taurat sama sekali, dalam hal ini Yesus berbeda dengan
para ahli Taurat,
sebab Ia mengajak orang untuk memahami makna sejati hukum Taurat sesuai dengan
yang dimaksudkan oleh Allah, alih-alih terpaku pada kata demi kata yang tertera
di dalamnya. Itulah yang dimaksudkan-Nya ketika berkata,
“Janganlah menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya” (Mat. 5:17).
Yang unik dalam Injil Matius, meskipun Yesus sendiri juga
melihat diri-Nya sebagai
guru (Mat. 23:8;
26:18), hampir semua murid tidak pernah ditampakkan menyapa-Nya demikian. Yesus disapa sebagai
guru oleh orang-orang di luar kelompok mereka (Mat. 17:24), para lawan dan orang-orang yang tidak percaya
kepada-Nya (Mat. 9:11; 12:38; 22:16,24,36), serta Yudas, murid yang kemudian
mengkhianati-Nya (Mat 26:25,49). Hal ini
kiranya sengaja dilakukan oleh penulis Injil Matius, dan bukan tanpa makna. Orang-orang itu menyebut
Yesus sebagai guru karena memandang Dia sebagai
guru biasa. Bagi mereka, Yesus adalah seorang
guru dan tidak lebih
dari itu. Lagi pula, mereka
kemudian menyebut Yesus
sebagai “si penyesat” (Mat. 27:63), yang berarti memandang-Nya sebagai
guru palsu. Berbeda dengan itu, murid-murid Yesus mengenal Dia dengan lebih baik. Dia ini guru tetapi lebih dari sekadar guru.
Bagi murid-murid yang sejati
dan orang-orang yang percaya kepada-Nya, Yesus melampaui para guru pada umumnya,
sebab Dia ini adalah Tuhan.
Begitulah mereka menyapa
diri-Nya (Mat. 8:25; 9:28; 14:28; 17:4).
Persamaan
dan Perbedaan Yesus dengan Guru-guru Lainnya
Sebagai seorang guru, Yesus memiliki persamaan dengan guru-guru Yahudi lain pada zaman-Nya. Sebagaimana lazimnya
seorang rabi, Ia pun mengenal
baik dan sangat
akrab dengan Kitab Suci yang dalam Injil Matius disebut
sebagai “hukum Taurat
dan kitab para nabi” (Mat. 7:12;
22:40). Isi kitab-kitab tersebut sering
dikutip oleh-Nya dan menjadi dasar dari ajaran-ajaran-Nya (mis. Mat. 4:1-11; 21:12-13).
Salah besar kalau ada yang mengatakan bahwa Yesus menolak Taurat, sebab Ia sendiri menegaskan tentang pentingnya
hukum Taurat (Mat. 5:18). Penerapan hukum ilahi secara
nyata yang terwujud
dalam kehidupan sehari-hari yang benar, adil, bermoral,
saleh, dan etis (mis. Mat. 5:7-9) juga tidak khas Yesus, sebab guru-guru yang lain pun memperhatikan hal itu. Termasuk
di dalamnya adalah cara Yesus mengajar
yang menggunakan metode tanya jawab (Mat. 16:13-16), teka-teki
(Mat. 22:41-46), perumpamaan (mis. Mat. 13:24-30), dan pernyataan-pernyataan hiperbolis (Mat. 5:29-30). Para rabi
sering menggunakan metode-metode tersebut untuk menggugah dan menarik perhatian para pendengar, terutama
agar mereka merenungkan pesan-pesan yang disampaikan
dan meresapkannya dalam hati.
Seperti para rabi lainnya, Yesus juga memiliki kelompok murid
yang mengikuti Dia, mendengarkan ajaran-ajaran-Nya, dan meneladan cara hidup-Nya
(Mat. 10:1-4). Yesus pun mengajar para murid dan orang
banyak di tempat dimana guru-guru Yahudi lain biasa memberikan pengajaran, seperti
di rumah-rumah ibadat,
di Bait Allah, dan di ruang-ruang
publik lainnya. Konfrontasi yang terjadi antara Yesus dan kelompok-kelompok
lain, misalnya orang Farisi dan orang Saduki, juga bukan sesuatu yang khas. Para rabi sering
berdebat dan terlibat
pertentangan satu sama lain mengenai pandangan teologis dan penafsiran akan Kitab Suci. Namun, dalam hal ini, kiranya perlu dicatat
bahwa pertentangan antara Yesus dan orang Farisi di sini
lebih mencerminkan situasi jemaat yang dituju
oleh Injil Matius.
Pada masa itu, jemaat yang adalah orang
Kristen Yahudi sedang mengalami ketegangan dengan orang Farisi yang
kedudukannya makin kuat, tetapi tidak menunjukkan sikap bersahabat ter-hadap mereka.
Meskipun begitu, setiap guru pasti memiliki keunikan atau
karakteristik tersendiri dalam hal kepribadian, gaya mengajar, maupun isi
pengajaran. Yesus pun demikian. Di tengah berbagai persamaan di atas, Injil
Matius menunjukkan kekhasan Yesus yang
menjadi pembeda diri-Nya dengan para rabi yang lain. Di tempat pertama dapat
disebutkan tindakan Yesus yang memanggil orang-orang tertentu untuk menjadi
murid-murid-Nya yang terdekat (Mat. 4:18-22; 10:1-4). Ini sesuatu yang berbeda,
sebab biasanya para calon muridlah yang mencari dan mendekati seorang guru,
lalu melamar untuk menjadi muridnya. Yesus membalikkan hal itu dengan menjadi
pihak yang mengambil inisiatif. Dengan
memanggil, ditekankan kuasa Yesus untuk mengajak para murid mengikut
Dia, bukan sekadar mendengarkan ajaran seperti yang terjadi pada murid para rabi yang lain. Panggilan Yesus adalah sesuatu yang radikal, sebab menuntut para murid untuk mengutamakan Dia di atas segala
sesuatu (Mat. 10:37-39). Yesus adalah guru yang
lebih dari sekadar guru. Dia bukanlah guru biasa atau guru pada umumnya,
sebab memiliki kuasa ilahi untuk memanggil orang agar
terlibat dalam misi pewartaan Kerajaan Surga.
Para rabi umumnya menetap. Mereka mengajar di tempat tertentu
yang sama dari waktu ke waktu, antara lain di rumah ibadat atau di rumah mereka
sendiri, dan hanya berpindah ke tempat lain ketika diundang untuk mengajar di situ. Murid-murid datang kepada
mereka, tinggal bersama mereka, dan belajar kepada mereka selama beberapa
waktu. Berbeda dengan guru-guru tersebut, Yesus berkeliling dari satu tempat ke
tempat lain dalam mengajar dan memberitakan Injil (Mat. 4:23). Ini menunjukkan gaya pengajaran yang proaktif, dimana
alih-alih menunggu orang datang kepada-Nya, Yesuslah yang justru datang
kepada mereka. Dengan berkeliling, Yesus
bermaksud menjangkau semua
kalangan, terutama mereka yang selama ini diabaikan
dan dipinggirkan. Inilah penegasan bahwa tidak seorang
pun luput dari perhatian dan belas
kasihan Allah. Cara Yesus ini sekaligus menjadi
simbol bahwa kabar baik
yang diwartakan-Nya bersifat
universal, tidak terbatas
pada tempat atau kelompok tertentu saja. Kelak,
para murid diminta
untuk meneladan Dia dengan pergi dan menjadikan segala
bangsa sebagai murid-Nya (Mat. 28:19).
Dalam mengajarkan sesuatu,
seorang rabi biasanya
mengutip perkataan rabi-rabi besar yang tampil sebelumnya supaya
apa yang diajarkannya itu diterima dan diyakini
kebenarannya oleh para murid. Kuasa rabi tersebut dengan
demikian bersumber dan bergantung pada kuasa
rabi lain yang lebih besar darinya.
Ini seperti kita yang ketika berbicara sering
merujuk pada pandangan dan perkataan tokoh-tokoh terkenal supaya apa yang kita sampaikan
menjadi terasa berbobot dan dipercaya oleh orang-orang yang mendengarkan kita.
Berbeda dengan itu, Yesus mengajar dengan kuasa yang ada pada
diri-Nya sendiri, alih-alih bergantung pada tradisi atau pandangan orang
lain. Hal ini tampak dalam ungkapan
“sesungguhnya Aku berkata kepadamu” yang sangat sering dikatakan Yesus untuk
mengawali pengajaran-Nya (mis. Mat. 10:15,23,42). Dalam ungkapan itu terkandung makna bahwa yang diajarkan Yesus
adalah kebenaran
yang pasti, sebab berasal dari Yesus sendiri
yang adalah sumber kebenaran. Kuasa Yesus sangat
besar mengingat relasinya-Nya yang khusus dengan
Bapa. Bapa mengehendaki agar semua orang mendengarkan Yesus, sebab Dia
adalah Anak-Nya yang terkasih (Mat. 17:5).
Pengutipan atas hukum Taurat
yang dilakukan Yesus tidak
bisa disamakan dengan yang dilakukan para rabi yang lain. Sementara para rabi
biasanya mengutip hukum Taurat, menafsirkannya, lalu mendesak orang-orang untuk
menaati hukum tersebut sesuai dengan tafsiran itu, yang dilakukan Yesus adalah
menggenapinya (Mat. 5:17). Menggenapi artinya,
di balik kata demi kata yang membentuk
suatu ketentuan, Yesus memahami
apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah dengan ketentuan tersebut
dan memenuhinya dengan sempurna. Mengenai larangan untuk membunuh (Kel. 20:13),
Yesus paham bahwa
yang dikehendaki Allah bukan sekadar tidak menghilangkan nyawa orang
lain secara tidak adil, melainkan juga lenyapnya kemarahan dan
kebencian dalam hati manusia (Mat. 5:21-26). Mengenai
hukum Sabat (Ul. 5:12-15), Yesus paham
bahwa yang dikehendaki Allah bukanlah agar manusia tidak melakukan
apa-apa pada hari itu, melainkan agar mereka semua merasakan kasih dan
kemerdekaan yang dianugerahkan oleh-Nya. Karena itu, dalam pengajaran-Nya, Yesus sering
mengutip hukum Taurat, lalu berkata, “Namun, Aku berkata kepadamu” (Mat.
5:31-32,33-34). Bukan bermaksud mempersalahkan hukum tersebut, Yesus dengan
berkata demikian hendak mengoreksi tafsiran atau pemahaman yang keliru, yang bisa menjauhkan manusia dari Allah. Yesus dengan
itu juga mengkritik orang-orang yang mau
gampangnya saja, sehingga
enggan menggali makna hukum Taurat
secara lebih mendalam. Sikap tersebut justru merugikan hukum Taurat sendiri,
sebab membuat orang gagal untuk mencapai tujuan sejati dari hukum itu, yakni
kasih terhadap Allah dan sesama
dengan sepenuh hati (Mat. 22:34-40).
Mukjizat yang dilakukan Yesus juga menjadi
pembeda antara diri-Nya dan guru-guru
Yahudi yang lain. Beberapa rabi
mungkin tergolong istimewa, sebab selain mengajar dengan baik, mereka juga pendoa yang baik, yang menunjukkan kedekatan relasi mereka dengan
Allah. Namun, Yesus unggul atas semuanya
dengan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya,
dimana dengan itu Ia menunjukkan kuasa-Nya atas alam (Mat. 8:23-27), memenuhi
kebutuhan manusia (Mat.
14:13-21), menyembuhkan
orang-orang sakit (Mat. 4:23-25), dan mengusir setan (Mat. 8:28-34). Sebagai guru, Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata.
Pengajaran-Nya disertai dengan
tanda-tanda ilahi yang merupakan bagian
dari kuasa yang dimiliki-Nya.
Berkaitan dengan ini, patut juga dicatat mengenai konsistensi antara
perkataan dan perbuatan Yesus. Tidak sekadar
mengajarkan, Yesus sendiri melaksanakan semua yang diajarkan-Nya dengan
integritas penuh. Kesediaan untuk menderita dan memanggul salib
sampai mati menjadi bukti yang tak terbantahkan. Yesus sungguh berbeda
dengan guru-guru Yahudi lain, yang sering kali tahu mengajar, tetapi
tidak tahu melaksanakan apa yang mereka ajarkan (Mat. 23:3).
Guru yang Penuh Kuasa, Guru yang Seperti Musa
Sebagaimana gelar-gelar Yesus, ciri khas Yesus sebagai guru
dalam Injil Matius memiliki benang
merah yang sama, yakni penekanan akan kuasa-Nya yang besar.
Yesus adalah guru yang penuh kuasa. Karena penuh kuasa, Yesus memanggil orang
untuk menjadi murid-Nya (Mat. 10:1-4), memberi tuntutan agar mereka
mengutamakan Dia (Mat. 10:37-39), serta mengutus mereka untuk melakukan dan
mengajarkan segala sesuatu yang telah Ia perintahkan (Mat. 28:20). Karena
penuh kuasa, Yesus tidak hanya mengajar dengan
baik, tetapi juga menyertai pengajaran-Nya dengan berbagai tindakan
yang mengagumkan (Mat. 4:23). Karena penuh kuasa pula, alih-alih sekadar
menuntut orang untuk menaati
hukum Taurat, Yesus menggenapi hukum tersebut dan mengajarkan pelaksanaannya sesuai dengan maksudnya
yang sejati, yakni yang dikehendaki Allah (Mat. 5:27-30).
Kuasa Yesus diakui oleh orang-orang yang menyaksikan dan
mendengarkan pengajaran-Nya. Injil
Matius menyatakan ini sejak awal,
yakni setelah orang banyak mendengarkan khotbah di bukit: “Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu,
takjublah orang banyak itu mendengar
pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka
sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29; bdk. Mat. 22:33).
Orang-orang itu melihat
Yesus sebagai guru yang penuh kuasa, istimewa, berwibawa, dan tak tertandingi oleh guru-guru Yahudi
yang lain. Mereka takjub kepada-Nya.
Berkaitan dengan sosok
Yesus sebagai guru dan kuasa-Nya
yang besar dalam menggenapi
hukum Taurat, bisa dirasakan bahwa Injil Matius dengan
itu juga bermaksud menampilkan Yesus sebagai Musa yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah berfirman
kepada Musa, “Seorang
nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti
engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang
Kuperintahkan kepadanya” (Ul. 18:18). Janji Allah tersebut digenapi
dalam diri Yesus. Dialah nabi seperti Musa; Dialah Musa yang kedua; Dialah Musa
yang baru. Penyejajaran Yesus dengan
Musa terlihat jelas dalam Injil Matius, sehingga
kita sebagai pembaca dapat merasakan relasi yang erat di antara keduanya.
Sebagaimana Musa lahir ketika bangsa Israel ditindas oleh firaun yang kejam
(Kel. 1:8-14), Yesus lahir dalam suasana
penjajahan yang
mempri-hatinkan. Tindakan Herodes memerintahkan pembunuhan terhadap anak-anak di Betlehem (Mat. 16-18) mengingatkan pada tindakan
firaun yang memerintahkan pembunuhan terhadap setiap bayi laki-laki yang
dilahirkan oleh perempuan Ibrani (Kel. 1:15-22).
Musa menerima sepuluh firman Allah dan hukum Taurat di
Gunung Sinai (Kel. 19:1-6), sehingga sejajar dengan itu, Yesus pun menyampaikan
sabda-sabda bahagia dan pengajaran-Nya yang paling mendasar di atas sebuah
bukit (Mat. 5:1 – 7:29).
Meskipun demikian, Musa yang baru bagaimanapun lebih unggul daripada Musa yang lama. Sementara
Musa hanya meneruskan apa yang difirmankan Allah
di Gunung Sinai kepada bangsa Israel, Yesus di bukit itu menyampaikan
firman-firman dari diri-Nya sendiri kepada orang-orang yang mendengarkan-Nya.
Dengan cara ini, Injil Matius menegaskan bahwa Yesus adalah guru yang
mengajarkan hukum ilahi yang sempurna dan yang akan menuntun umat dalam perjanjian dengan Allah yang telah diperbarui oleh-Nya.
Lima Kumpulan Pengajaran Yesus
Penggambaran tentang Yesus sebagai Musa yang baru juga tampak
dalam pembagian Injil Matius menjadi
lima bagian. Seperti
telah kita lihat bersama
di atas, di bagian ciri khas Injil Matius, Injil
ini dapat dibagi menjadi lima bagian besar, yakni
awal pelayanan Yesus di Galilea (Mat. 3:1 – 7:29), mukjizat dan kemuridan (Mat.
8:1 – 10:42), pernyataan tentang Yesus dan Kerajaan Surga (Mat. 11:1 – 13:52),
Mesias dan jemaat-Nya (Mat. 13:53 – 18:35), serta
perjalanan ke Yerusalem dan pelayanan Yesus di kota itu (Mat. 19:1 – 25:46). Kelima bagian itu diawali
oleh kisah masa kanak-kanak Yesus sebagai pengantar (Mat. 1:1 – 2:23), dan diakhiri
oleh kisah sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus,
serta misi pengutusan
dari-Nya, sebagai klimaks sekaligus penutup (Mat. 26:1 – 28:20). Tanda
yang menjadi pembatas bagian yang
satu dengan bagian lainnya adalah
kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan itu” yang ada di akhir atau awal suatu bagian (bunyinya tidak selalu
persis sama, lih. Mat. 7:28; 11:1;
13:53; 19:1; 26:1), yang juga muncul dalam kitab Taurat berkaitan dengan
Musa (Ul. 32:45). Karena itu, pembagian ini kiranya merujuk
pada Taurat Musa yang terdiri atas lima kitab (Kejadian, Keluaran,
Imamat, Bilangan, dan
Ulangan), bermaksud menggarisbawahi kesejajaran Yesus dengan Musa, serta
bisa jadi pula menunjukkan upaya penulis Injil Matius untuk menyajikan Injilnya sebagai Taurat
yang baru.
Penulis Injil Matius
mendesain Injilnya sedemikan rupa, sehingga
masing-masing bagian tersebut terdiri atas narasi dan pengajaran. Karena kita sedang bermaksud mendalami sosok Yesus
sebagai seorang guru yang penuh kuasa, dalam kesempatan ini yang menjadi
perhatian kita adalah bagian
pengajaran. Pembagian Injil
Matius menjadi lima bagian membuat Injil ini juga memiliki
lima kumpulan pengajaran Yesus, yakni khotbah
di bukit (Mat. 5:1 – 7:29),
khotbah pengutusan (Mat. 10:1-42), perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan
Surga (Mat. 13:1-52), ajaran-ajaran untuk
membina jemaat (Mat. 18:1-35), dan khotbah tentang akhir zaman (Mat. 23:1 – 25:46).
Kumpulan
pengajaran yang pertama: Khotbah di bukit (Mat. 5:1 – 7:29). Sejajar dengan
Musa yang naik ke Gunung
Sinai untuk menerima sepuluh firman Allah, Yesus
naik ke atas bukit untuk
menyampaikan pengajaran perdana-Nya. Pengajaran ini dapat
dibagi menjadi dua bagian besar,
yakni sabda-sabda bahagia
(Mat. 5:1-12) dan cara hidup murid-murid
Yesus yang sejati (Mat. 5:13 – 7:27). Sabda-sabda bahagia berfungsi sebagai
pengantar, sekaligus dasar bagi tuntutan-tuntutan radikal yang dikemukakan Yesus selanjutnya, yang harus ditepati
oleh siapa saja yang mau menjadi pengikut-Nya. Mereka antara
lain dituntut agar menjadi garam dunia dan terang dunia, mampu mengekang
kemarahan, mengasihi musuh, dan sebagainya.
Kumpulan
pengajaran yang kedua: Khotbah pengutusan (Mat. 10:1-42). Pengajaran ini khususnya ditujukan kepada kedua belas murid
Yesus. Yesus yang memanggil mereka
sekarang mengutus mereka
untuk ambil bagian dalam misi yang dikerjakan-Nya, yakni “memberitakan Injil Kerajaan dan menyembuhkan
orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat. 9:35). Agar para murid berhasil dalam menjalankan misi tersebut, Yesus memberi
mereka kuasa, nasihat-nasihat, serta peringatan tentang risiko yang akan mereka
hadapi. Yesus juga menjanjikan
ganjaran dan penyertaan bagi para murid yang setia kepada-Nya sampai akhir.
Kumpulan pengajaran yang ketiga: Perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan
Surga (Mat. 13:1-52).
Yesus di sini menyampaikan ajaran tentang Kerajaan Surga dalam bentuk
perumpamaan (untuk menunjukkan rasa hormat terhadap
Allah, Kerajaan Allah disebut sebagai
Kerajaan Surga dalam Injil Matius). Melalui perumpamaan-perumpamaan itu,
rahasia Kerajaan Surga disingkapkan oleh Yesus. Kerajaan Surga antara lain
digambarkan sebagai benih yang jatuh
di atas berbagai jenis tanah, gandum yang tumbuh di antara lalang, biji sesawi
dan ragi yang kecil, dan sebagainya. Para pendengar diharapkan pada akhirnya
menyadari bahwa Kerajaan Surga adalah anugerah
yang sangat besar dari Bapa bagi
manusia. Hendaknya mereka menyadari,
membuka diri, dan menyambut kehadirannya dengan gembira.
Kumpulan pengajaran yang keempat: Ajaran-ajaran untuk membina jemaat (Mat. 18:1-35). Konteks dari kumpulan
pengajaran ini adalah kesadaran bahwa Yesus tidak bisa
terus-menerus berada di sisi murid-murid-Nya, sebab Ia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Ada saatnya nanti
Ia tidak bisa lagi menjaga
para murid secara
langsung, sehingga mereka harus mulai belajar hidup mandiri. Untuk
itu, Yesus menasihati para murid dan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Masing-masing harus bersikap rendah
hati seperti seorang
anak kecil. Mereka juga hendaknya saling
menjaga satu sama lain, yakni dengan saling
mengampuni, tidak bersikap menang
sendiri, tidak menyesatkan orang lain, dan kalau ada di antara mereka
yang salah jalan, orang itu sedapat
mungkin harus diajak untuk kembali.
Kumpulan
pengajaran yang kelima: Khotbah tentang akhir zaman (Mat. 23:1 – 25:46). Pengajaran tentang akhir zaman disampaikan Yesus di Yerusalem ketika
saat-saat akhir bagi-Nya
sudah mendekat. Mula-mula, Yesus mengecam keras kemunafikan para ahli Taurat
dan orang Farisi yang lebih mementingkan penampilan lahiriah, alih-alih keadilan
dan belas kasihan. Ia lalu meratapi Yerusalem yang menolak kehadiran para nabi
dan akan mengalami kehancuran. Setelah itu, Yesus berbicara tentang
akhir zaman, yang mana Dia mendorong para murid untuk berjaga-jaga dan siap sedia menyambut kedatangan
Anak Manusia yang waktunya tidak
terduga. Saat kedatangan Anak Manusia adalah
sekaligus saat dilangsungkannya penghakiman terakhir. Manusia akan
dihakimi berdasarkan sikap mereka
terhadap Anak Manusia,
yang terwujud secara nyata dalam sikap mereka terhadap
sesama.
Para Murid dalam Injil Matius
Keberadaan lima kumpulan
pengajaran Yesus dalam Injil Matius menjadi pertanda bahwa penulis
Injil ini bermaksud menonjolkan Yesus sebagai guru, sehingga dengan sendirinya
memberi perhatian khusus pada pengajaran. Bandingkan pernyataan Injil Markus
bahwa Yesus datang ke Galilea untuk
memberitakan Injil Allah (Mrk. 1:14) dengan pernyataan serupa dalam Injil
Matius bahwa ketika Yesus berkeliling di seluruh Galilea, “Ia mengajar dalam
rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan…” (Mat. 4:23). Mengajar
menjadi salah satu agenda utama pelayanan Yesus di
tengah-tengah manusia,
sehingga perlu disebutkan
secara tersendiri.
Sebagai seorang guru, Yesus tentu punya harapan kepada para murid-Nya. Yang kiranya paling
diharapkan Yesus dari murid-murid-Nya adalah agar mereka
mengerti. Lebih dari sekadar mendengar, para murid diharapkan mengerti segala
sesuatu yang diajarkan Yesus (Mat. 13:23), melaksanakannya dengan sungguh
dalam kehidupan sehari-hari (Mat. 12:50), dan meneruskan ajaran-ajaran itu kepada
orang lain (Mat. 28:20).
Pentingnya untuk mengerti ditekankan oleh Yesus, misalnya ketika Ia mengajar tentang hukum Sabat. Mengawali penegasan-Nya bahwa yang
dikehendaki Allah adalah belas
kasihan dan bukan persembahan, Yesus
berkata, “Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini” (Mat. 12:7). Ketika mengajarkan Kerajaan Surga dengan
perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus juga berkata, “Yang
ditaburkan di tanah yang baik artinya orang
mendengar firman itu dan mengerti” (Mat. 13:23). Pengertian
adalah karunia yang diberikan Allah kepada murid-murid Yesus untuk mengetahui
rahasia-rahasia Kerajaan Surga, sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang
kebanyakan (Mat. 13:11; bdk. Mat. 11:25; 13:19).
Memenuhi harapan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah murid-murid yang sejati, para murid Yesus
dalam Injil Matius digambarkan
mengerti apa yang diajarkan oleh guru mereka. Setelah Yesus menceritakan
perumpamaan tentang jala yang besar,
misalnya. Ketika Ia bertanya kepada para murid apakah mereka mengerti akan apa yang diajarkan-Nya,
dengan mantap mereka menjawab, “Ya” (Mat. 13:51). Juga ketika Yesus setelah
peristiwa transfigurasi berbicara tentang kedatangan Elia. Para murid dikatakan
mengerti bahwa Ia sedang berbicara tentang
Yohanes Pembaptis (Mat. 17:13). Pengambaran ini kontras dengan yang ada dalam Injil Markus,
dimana para murid
tampak sering kali gagal memahami ajaran
Yesus, bahkan setelah
diberi penjelasan oleh-Nya
(Mrk. 4:13; 8:17-21). Memang, dalam Injil Matius pun, para murid bergulat
dalam panggilan mereka dan dalam
usaha mereka untuk memahami pribadi serta
ajaran-ajaran Yesus. Mereka terkadang tidak mengerti (Mat. 16:9,11) dan kurang percaya
(Mat. 6:30; 8:26),
sebab iman mereka belum sempurna. Namun,
dengan bimbingan Yesus,
dari hari ke hari mereka makin mengerti (Mat.
16:12) dan iman mereka pun makin diteguhkan (Mat. 14:33). Injil Matius dengan
demikian menampilkan para murid Yesus sebagai murid-murid yang bisa
dibanggakan.
Para murid mengikut Yesus karena dipanggil oleh-Nya. Panggilan
ini menuntut mereka untuk tidak sekadar mendengarkan ajaran-Nya, tetapi juga
meneladan keseluruhan hidup-Nya. Ini karena selain kata-kata, cara hidup Yesus
adalah juga ajaran yang wajib mereka ikuti. Sebagaimana guru, demikianlah
seharusnya muridnya. Karena itu, para murid diharapkan menjadikan Yesus sebagai
acuan dan panutan mereka. Kesediaan Yesus untuk melayani, berbelaskasihan,
berpihak kepada orang kecil, menyuarakan kebenaran dan keadilan, serta
merendahkan diri dengan menanggung derita dan kematian merupakan undangan bagi murid-murid-Nya untuk menapaki jalan
yang sama. Sebagai
Gereja, murid-murid Yesus adalah umat Allah yang baru. Hendaknya mereka
hidup sesuai dengan martabat luhur tersebut, yakni dengan menjadikan perkataan dan keteladanan Yesus sebagai pegangan
dan pedoman dalam menjalani hidup.
Pada akhirnya, Yesus
berharap agar para murid menjadi
perpanjangan tangan-Nya. Ia mengutus mereka untuk meneruskan tugas
perutusan yang diemban-Nya dari Bapa. Kabar baik tidak boleh disimpan sendiri,
tetapi harus diteruskan kepada yang lain, supaya makin banyak orang
merasakan kasih sayang Allah. Untuk itu, dalam amanat agung yang menjadi
penutup Injil Matius (Mat. 28:18-20), Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk
pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, untuk membaptis mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, serta untuk mengajarkan mereka
melakukan segala sesuatu
yang telah diperintahkan-Nya
kepada para murid. Seorang murid tidak lebih daripada gurunya (Mat. 10:24), dan para murid hendaknya tidak disebut rabi
(Mat. 23:8). Ini merupakan pesan agar dalam
mengajar, para murid jangan sampai
meninggikan diri mereka dan merendahkan orang-orang yang mereka ajar. Mereka
semua, baik yang mengajar maupun yang diajar, adalah saudara (Mat. 23:8). Para murid hendaknya mengantar orang-orang
yang mereka ajar kepada satu-satunya orang yang layak disebut rabi, yakni Yesus sendiri, guru yang sejati, guru yang
penuh kuasa, guru mereka bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar