Minggu, 30 Agustus 2026

Wajah Yesus dalam Injil Matius


Injil Adalah Kabar Baik

Injil artinya kabar baik. Diterjemahkan dari kata Yunani euaggelion (baca: euanggelion), pada mulanya kabar baik yang dimaksud bermakna umum, yakni semua berita gembira yang secara resmi disampaikan oleh pemerintah kepada rakyatnya. Naiknya seorang raja ke atas singgasana kerajaan, lahirnya putra raja, kemenangan di medan perang, penghapusan utang, keringanan pajak, dan pemberian amnesti merupakan beberapa contoh kabar baik yang dibawa, disebarkan, dan diumumkan oleh utusan-utusan raja, yang tentunya menghadirkan sukacita bagi seluruh rakyat.

Ketika Yesus hadir dan berkarya di dunia, Injil memperoleh makna baru, yakni kabar baik yang diwartakan-Nya tentang kedatangan Kerajaan Allah (Mat. 4:23; Mrk. 1:15). Yesus menggenapi apa yang disampaikan Nabi Yesaya tentang pemerintahan Allah yang menghadirkan damai sejahtera, kegembiraan, dan keselamatan bagi manusia (Yes. 52:7). Agar mengalami pengampunan dosa, pemulihan, keselamatan kekal, dan damai sejati, manusia diundang untuk bertobat, percaya, dan membuka diri pada kabar baik yang dibawa-Nya itu.

Setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, pewartaan Injil dilanjutkan oleh para rasul, dan di sini makna Injil kembali mengalami perkembangan. Injil kemudian dimengerti sebagai kabar baik yang diwartakan para rasul mengenai Yesus yang adalah Mesias (Kis. 5:42). Dari pembawa kabar baik, Yesus menjadi isi dari kabar baik itu sendiri. Injil yang diwartakan para rasul adalah kabar baik bahwa Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus yang telah mati, dikuburkan, dan dibangkitkan untuk menebus dosa-dosa manusia. Keselamatan akan dialami oleh mereka yang mengimani Yesus, melakukan segala sesuatu yang diajarkan-Nya, serta dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:20; Mrk. 16:16).

Ketika sejumlah pihak kemudian menuliskan kesaksian mereka tentang hidup dan karya-karya Yesus, Injil pada akhirnya juga merujuk pada jenis sastra tertentu. Kesaksian tertulis ini dirasa perlu untuk dibuat demi menjaga keautentikan iman yang mau diwartakan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, mengingat pada waktu itu para saksi mata mulai berpulang satu demi satu. Melalui kitab-kitab Injil, ditegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, Anak Allah, dan Juru Selamat dunia. Semua orang diundang untuk percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan Allah melalui Dia. Berbagai tulisan yang disebut Injil ditulis dalam kurun waktu abad pertama sampai abad kedua Masehi. Dari tulisan-tulisan tersebut, Gereja menetapkan empat Injil sebagai kanonik, yang berarti mengesahkan bahwa kitab-kitab tersebut memuat kisah hidup Yesus, beserta segala karya dan ajaran-ajaran-Nya, dengan benar dan dapat dipercaya. Keempat Injil tersebut adalah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Mengenal Injil Matius

Berada di posisi pertama di depan Injil-Injil yang lain, sekaligus menjadi kitab yang membuka dan mengawali Perjanjian Baru, Injil Matius adalah Injil yang sangat terkenal dan menjadi kesayangan segenap umat Kristen. Arti penting Injil Matius sudah dirasakan sejak dahulu oleh umat Kristen pada masa awal, dimana mereka menjadikan Injil ini sebagai pegangan dan pedoman hidup, baik secara pribadi maupun dalam berkomunitas. Sebagai Injil yang terpanjang, Injil Matius dipandang menyajikan informasi yang lengkap tentang hidup dan karya-karya Yesus, sehingga menyuburkan iman kristiani dan memperkaya pengenalan Gereja akan Dia. Tidak mengherankan bahwa Injil ini selalu menjadi salah satu rujukan utama bagi siapa saja yang berbicara tentang kekristenan. Pada abad kedua, bahkan diketahui bahwa Injil Matius merupakan kitab yang sangat berpengaruh dan paling sering dikutip dalam tulisan-tulisan kristiani yang beredar pada masa itu, misalnya saja Didakhe, Melawan Ajaran Sesat karya Irenaeus, surat-surat Ignasius dari Antiokhia, tulisan-tulisan apologetis Yustinus Martir, dan sebagainya. Para penulis sangat mengapresiasi Injil Matius karena susunannya yang sistematis, keterkaitannya yang kuat dengan tradisi Yahudi, dan terutama karena isinya yang begitu kaya akan ajaran Yesus.

Menurut tradisi, penulis Injil ini adalah Matius, salah seorang dari kedua belas murid Yesus yang adalah mantan pemungut cukai (Mat. 9:9) dan memiliki nama lain Lewi (Mrk. 2:14; Luk. 5:27). Pandangan ini bersumber dari pernyataan Papias, uskup Hierapolis, sekitar tahun 130 sebagaimana dicatat oleh Eusebius, uskup Kaisarea, pada abad ke-4. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan studi Kitab Suci, diketahui bahwa semua Injil mula-mula beredar secara anonim, tidak mencantumkan nama penulisnya. Pemberian judul yang mengacu pada nama penulis baru muncul dalam salinan-salinan kuno pada masa kemudian, dan sifatnya adalah atributif. Menyangkut Injil Matius, hal itu berarti besar kemungkinan Injil ini tidak ditulis oleh Matius, tetapi dengan alasan-alasan tertentu dikaitkan dengan dirinya sebagai salah seorang murid Yesus.

Identitas asli sang penulis sendiri tidak dapat dipastikan, namun sejumlah hal dari Injil yang disusunnya menunjukkan bahwa dia ini kiranya seorang Yahudi yang kemudian beriman kepada Yesus dan memeluk kekristenan. Dia agaknya hidup di lingkungan Yahudi (bdk. Mat. 16:19), pandai berkhotbah (bdk. Mat. 5:13-16), berani mengecam keras orang Yahudi yang menolak Yesus (bdk. Mat. 27:25), serta menguasai Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi dengan sempurna (bdk. Mat. 4:12-17). Berdasarkan itu, penulis Injil ini kemungkinan adalah seorang rabi yang memiliki pengalaman rohani yang mendalam, serta mampu berpikir dengan cermat, jelas, dan teratur. Kesaksian tertulis akan Yesus disusunnya bagi jemaat Kristen Yahudi generasi kedua yang berbahasa Yunani.

Injil Matius diperkirakan ditulis sekitar tahun 80. Meski ditempatkan di posisi pertama, Injil ini bukanlah Injil tertua, sebab sudah ada Injil Markus yang ditulis dan beredar terlebih dahulu sekitar tahun 70. Tempat penulisan Injil Matius diperkirakan di Antiokhia, Siria, dan secara khusus, Injil ini ditujukan kepada jemaat Kristen Yahudi yang berada di situ. Mereka sebagian besar adalah orang sederhana (bdk. Mat. 19:21-22), dan sudah memiliki pola kehidupan yang teratur sebagai jemaat kristiani (bdk. Mat. 14:13-21; 15:32-39; 18:20). Jemaat saat itu sedang mengalami konflik yang serius dengan orang Farisi (bdk. Mat. 6:5). Setelah kehancuran Bait Allah di Yerusalem, kedudukan dan pengaruh orang Farisi menjadi makin kuat. Becermin dari tragedi besar yang menimpa Yerusalem tahun 70 akibat serbuan dari pasukan Romawi, mereka menekankan pentingnya ketaatan terhadap Taurat dan tradisi leluhur sebagai jalan agar bangsa itu senantiasa disertai Tuhan, sehingga terhindar dari segala malapetaka dan bencana. Karena mengimani Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang telah datang ke dunia dan akan kembali kelak di masa depan, keberadaan jemaat Kristen mereka tolak. Sebagai dampaknya, orang-orang yang beriman kepada Yesus ditentang, dimusuhi, dan disingkirkan dari peribadatan dan kehidupan sosial. Rumah-rumah ibadat Yahudi menutup pintu bagi kehadiran mereka. Usaha mewartakan kabar baik kepada sesama orang Yahudi dengan demikian menemui jalan buntu.

Injil Matius sebagai Injil Sinoptik

Ketika membaca Injil Matius, dengan segera kita pasti akan menyadari adanya perikop-perikop yang dapat ditemukan pula dalam Injil Markus dan Injil Lukas, meskipun isinya tidak persis sama. Pengajaran tentang Doa Bapa Kami, misalnya, ada di Mat. 6:9-13 dan Luk. 11:2-4. Kisah mukjizat dibangkitkannya putri kepala rumah ibadat dari kematian dan kesembuhan perempuan yang sakit pendarahan malah dimuat dalam tiga Injil sekaligus, yakni di Mat. 9:18-26; Mrk. 5:21-43; dan Luk. 8:40-56. Karena kesejajaran itu, Injil Matius, Markus, dan Lukas disebut Injil Sinoptik.

Secara harfiah, sinoptik artinya “melihat bersama” atau “melihat secara bersama-sama”. Injil Matius, Markus, dan Lukas disebut Injil Sinoptik karena jika dibandingkan secara paralel akan tampak bahwa ketiganya menampilkan kisah yang sama dengan versi atau penekanannya masing-masing. Kesejajaran terlihat jelas dalam hal urutan peristiwa, struktur cerita, isi narasi, serta kata-kata yang digunakan. Menurut para ahli, sekitar 50% isi Injil Matius sejajar dengan Injil Markus, 25% sejajar hanya dengan Injil Lukas, sedangkan 25% selebihnya khas Injil Matius dalam arti hanya ditemukan dalam Injil ini saja.

Hal itu terjadi karena penulis Injil Matius bukanlah saksi mata akan hidup dan karya-karya Yesus. Karena itu, dalam menuliskan kesaksian imannya, ia bersandar pada sumber-sumber tepercaya yang sudah beredar luas di kalangan jemaat Kristen saat itu (bdk. Luk. 1:1-4). Olehnya, materi dari sumber-sumber tersebut dipilah, dipilih, diteliti, diolah, lalu dirangkai dengan saksama, hingga menjadi satu tulisan yang utuh dan teratur.

Sumber utama penulisan Injil Matius adalah Injil Markus. Ada begitu banyak perikop Injil Markus yang dimuat kembali dalam Injil Matius, tentu dengan sejumlah perbedaan di sana-sini. Urutan kisah sepanjang Mat. 12:1 – 28:10 bahkan umumnya mengikuti Mrk. 2:23 – 16:8, sehingga sejajar dengannya.

Kesejajaran yang terjadi hanya dengan Injil Lukas mengandaikan rujukan pada sumber yang sama oleh kedua penulis Injil. Sumber yang merupakan hipotesis, sehingga bentuk fisiknya tidak diketahui ini oleh para ahli diberi julukan Q (inisial dari quelle, kata dalam bahasa Jerman yang juga berarti “sumber”). Meskipun sama-sama mengambil materi dari sumber Q, Matius dan Lukas tidak saling kenal, menulis di tempat terpisah, dan bekerja secara independen. Itu sebabnya materi yang sumbernya sama tersebut bisa jadi bentuk akhirnya berbeda, baik dari segi isi maupun letak, tidak lain karena disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang jemaat masing-masing. Sebagai contoh, bisa disebutkan kembali Doa Bapa Kami di Mat. 6:9-13 dan Luk. 11:2-4. Selain isinya tidak persis sama, dalam Injil Matius doa ini disampaikan Yesus sebagai bagian dari khotbah di bukit, sedangkan dalam Injil Lukas diajarkan oleh-Nya dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang murid.

Sementara itu, bagian-bagian berupa ayat maupun perikop yang khas Matius disebut materi M. Materi M ini kemungkinan berasal dari tradisi lisan di kalangan jemaat, sehingga umumnya bersifat populer (mis. mimpi istri Pilatus, Mat. 27:19), meskipun terbuka pula kemungkinan adanya sumber-sumber tertulis yang tidak lagi terpelihara. Penulis Injil Matius menggabungkan materi-materi tersebut ke dalam Injil yang disusunnya (mis. kisah tentang orang-orang majus, Mat. 2:1-12), menambahkannya pada sabda-sabda Yesus yang dihimpun dari sumber-sumber lain (mis. tentang memberi sedekah, Mat. 6:1-3, yang menjadi bagian dari khotbah di bukit), serta menyisipkannya pada sejumlah kisah (mis. dalam kisah sengsara, Pilatus dikatakan membasuh tangannya ketika mengadili Yesus, Mat. 27:24).

Ciri Khas Injil Matius

Dengan proses penyusunan seperti itu, meskipun mengandung banyak kesejajaran, masing-masing Injil Sinoptik memiliki kekhasannya sendiri, tidak terkecuali Injil Matius. Penulis Injil Matius menyusun kabar baik sekaligus kesaksiannya tentang Yesus dalam lima bagian besar yang masing-masing terdiri atas pasangan narasi dan pengajaran. Ia menjadikan kisah masa kanak-kanak Yesus sebagai pengantar, sedangkan kisah sengsara, kematian, kebangkitan, serta misi perutusan dari Yesus menjadi klimaks atau puncaknya.

Karena sering mengutip Perjanjian Lama, Injil Matius disebut bergaya Yahudi. Salah satu contohnya adalah Mat. 3:1-3, dimana ketika berbicara tentang Yohanes Pembaptis, penulis mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang hadirnya seseorang yang menyerukan agar jalan bagi Tuhan dipersiapkan (Yes. 40:3). Kutipan-kutipan itu juga membuat Injil Matius sering dijuluki sebagai Injil Penggenapan, sebab banyak di antaranya menyatakan bahwa apa yang terjadi menggenapi nubuat Perjanjian Lama (“supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi”, lih. Mat. 1:22; 2:15,17,23; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35; 21:4; 27:9). Dengan ini, Injil Matius merefleksikan dalam terang Perjanjian Lama untuk menunjukkan kepada jemaat bahwa seluruh hidup dan karya-karya-Nya merupakan penggenapan rencana penyelamatan yang dikerjakan Allah.

Selain menyusun bagian demi bagian dalam Injilnya secara teratur, penulis juga menghadirkan suasana yang agung dan sakral di dalamnya. Lihatlah bagaimana dia menyusun perikop tentang khotbah di bukit, dimana sebelum menyampaikan sabda-sabda bahagia, Yesus digambarkan naik ke atas bukit, lalu duduk, disusul oleh para murid yang datang kepada-Nya (Mat. 5:1-3). Setelah semua mengambil sikap selayaknya seorang murid dan siap untuk mendengarkan, mulailah Yesus mengajar mereka dengan penuh kuasa. Betapa besar kuasa Yesus memang sangat ditekankan dalam Injil Matius, antara lain dengan menggandakan apa yang dikatakan Injil Markus. Dalam Injil Markus, Yesus menghadapi seorang yang kerasukan roh jahat (Mrk. 5:1-20); dalam Injil Matius, yang kerasukan setan ada dua orang (Mat. 8:28-34). Dalam Injil Markus, Yesus dikisahkan menyembuhkan seorang buta bernama Bartimeus (Mrk 10:46-52); dalam Injil Matius, yang disembuhkan Yesus dari kebutaan ada dua orang (Mat. 20:29-34).

Perubahan detail dari Injil Markus juga dilakukan oleh penulis Injil Matius untuk menyatakan rasa hormatnya terhadap Yesus dan menegaskan keilahian-Nya. Sebagai contoh, dalam kisah Yesus meredakan angin ribut di tengah danau, Injil Matius sekadar mengatakan bahwa “Yesus tidur” (Mat. 8:24), alih-alih “Yesus sedang tidur … memakai bantal” (Mrk. 4:38). Yesus pun disebut “anak tukang kayu” (Mat. 13:55), bukannya “tukang kayu” (Mrk. 6:3). Selain itu, perkataan keluarga Yesus bahwa “Ia tidak waras lagi” (Mrk. 3:21) tidak dikutip dalam Injil Matius yang langsung berbicara tentang kedatangan ibu dan saudara-saudara Yesus untuk menjumpai Dia (Mat. 12:46-50; bdk. Mrk. 3:31-35).

Penggambaran konflik tajam antara Yesus dan orang Yahudi, terutama orang Farisi, patut disebutkan juga sebagai ciri khas Injil Matius. Orang Farisi digambarkan menolak Yesus, sangat memusuhi Dia, berusaha dengan segala upaya untuk menjatuhkan Dia (Mat. 16:1; 19:3; 22:15), bahkan merancang pembunuhan terhadap-Nya (Mat. 12:14). Yesus pun dalam tanggapan-Nya bersikap keras terhadap orang Farisi dengan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik yang manis di bibir, tetapi hatinya penuh dengan kejahatan (Mat. 15:7-9; bdk. 16:6; 23:2).

Penggambaran itu terkait erat dengan situasi jemaat yang dituju oleh Injil Matius, dimana karena kuatnya pengaruh orang Farisi, mereka mulai disingkirkan dari peribadatan dan kehidupan sosial masyakakat Yahudi. Karena itu, meskipun ditujukan kepada jemaat Kristen Yahudi (Mat. 10:5-6), Injil Matius juga menunjukkan keterbukaan terhadap bangsa-bangsa asing, misalnya dengan menghadirkan para majus sebagai orang-orang pertama yang menyambut kelahiran Yesus (Mat. 2:1-2), mengisahkan pelarian Keluarga Kudus ke Mesir (Mat. 2:14-15), serta dengan menampilkan amanat agung Yesus yang mengutus para murid untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya (Mat. 28:19). Injil Matius adalah saksi akan kekristenan yang mulai meninggalkan keterikatannya pada keyahudian. Penolakan orang Yahudi mendorong mereka bergerak keluar untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.

Yesus dalam Injil Matius

Kepada jemaatnya yang adalah orang Kristen Yahudi, penulis Injil Matius hendak memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dalam diri-Nya digenapi janji-janji Allah di masa lampau yang disampaikan-Nya melalui nubuat para nabi. Anggur yang baru memiliki hubungan erat dengan anggur yang lama, dan hal itu tampak jelas dalam hidup, karya, dan ajaran-ajaran Yesus. Namun, memahami pribadi Yesus bukanlah hal yang mudah bagi orang Yahudi. Siapakah Yesus sebenarnya? Apakah Dia ini Yohanes Pembaptis yang hidup kembali (Mat. 14:1-2)? Ataukah Dia ini nabi besar yang baru, sekelas dengan nabi-nabi besar Perjanjian Lama seperti Elia dan Yeremia (Mat. 16:14)? Bagaimana mungkin Yesus mengutip firman Allah, lalu berkata, “Namun, Aku berkata kepadamu” (mis. Mat. 5:43-44)? Siapakah Dia, sehingga berani memperluas dan memperdalam sepuluh firman Allah yang diberikan-Nya sendiri kepada umat melalui Musa di Gunung Sinai (mis. Mat. 5:21-22,27-28)? Injil Matius berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan menampilkan sosok Yesus dalam berbagai sudut pandang.

Yesus adalah Imanuel. Melalui kisah pemberitaan malaikat Tuhan terhadap Yusuf, Injil Matius menyatakan bahwa Yesus adalah Imanuel yang berarti “Allah beserta kita” (Mat. 1:22-23). Kelahiran-Nya menggenapi dengan sempurna nubuat yang disampaikan Nabi Yesaya (Yes. 7:14). Lebih dari sekadar nama, gelar Imanuel menyingkapkan identitas Yesus sebagai Allah yang menyertai manusia. Penyertaan ini diwujudkan Yesus melalui tindakan-tindakan-Nya, dimana Ia memberikan pengajaran, mengampuni dosa, menyembuhkan mereka yang sakit, serta mengusir roh jahat. Yesus dengan itu membawa kabar baik bagi manusia dan menunjukkan bahwa Allah tidak pernah melupakan umat-Nya. Penyertaan Allah juga ditunjukkan dalam keberpihakan Yesus terhadap orang-orang kecil, yakni mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit, berada di penjara, serta orang asing (Mat. 25:31-46). Yesus bahkan mengidentifikasi diri-Nya sebagai orang-orang tersebut, sehingga “segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ia hadir dalam setiap perjumpaan dengan sesama. Penggenapan penuh akan makna Imanuel terjadi di bagian akhir Injil Matius, dimana Yesus ketika mengutus para murid-Nya menyatakan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat. 28:20). Yesus yang adalah “Allah beserta kita” selalu menyertai para murid dan orang-orang yang beriman kepada-Nya, sehingga keseluruhan Injil Matius sesungguhnya adalah kisah tentang Allah yang menyertai manusia dalam diri Yesus.

Yesus adalah Mesias. Mesias atau Kristus artinya “Yang Diurapi”. Dalam Perjanjian Lama, Allah berjanji kepada Daud bahwa Ia akan membangkitkan keturunan baginya, dan bahwa dinasti serta kerajaannya akan teguh untuk selama-lamanya (2Sam. 7:10-16). Akan tetapi, kerajaan Daud mengalami perpecahan tahun 931 SM (1Raj. 12:1-24), lalu runtuh tahun 587 SM (2Raj. 25:1-21). Karena Allah pasti menepati janji-Nya, bersemilah pengharapan di hati umat Israel akan kedatangan Mesias, dia yang diurapi menjadi raja untuk meneruskan tampuk pemerintahan Daud, bapa leluhurnya (bdk. Yes. 11:1-10). Injil Matius menegaskan bahwa pengharapan itu digenapi dalam diri Yesus. Hal ini dinyatakan di bagian paling awal yang menampilkan silsilah Yesus: Yesus disebut sebagai Kristus, dan Dia ini adalah anak Daud (Mat. 1:1). Dalam diri Yesus digenapi semua nubuat Perjanjian Lama tentang Mesias yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya, misalnya bahwa Ia akan dilahirkan di Betlehem (Mat. 2:5-6; bdk. Mi. 5:1), serta akan mengungsi ke Mesir, lalu kembali dari sana (Mat. 2:14-15; bdk. Hos. 11:1). Kuasa Yesus yang sangat besar sebagai Mesias tampak dalam pengajaran-pengajaran yang disampaikan-Nya, serta dalam mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Semuanya itu mengantar Petrus pada pengakuan yang tulus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Namun, berbeda dengan pengharapan orang Yahudi yang menantikan datangnya Mesias sebagai seorang pemimpin politik yang jaya, Yesus adalah Mesias yang menghadirkan keselamatan kekal. Ia menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa (Mat. 1:21; 8:17) melalui penderitaan dan kematian-Nya (Mat. 27:32-54). Lebih dari itu, dengan menampilkan kisah pengutusan para murid kepada segala bangsa (Mat. 28:19-20), Injil Matius menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias bagi semua orang, bukan bagi orang Yahudi saja.

Yesus adalah Anak Allah. Gelar anak Allah dalam Perjanjian Lama biasanya merujuk pada bangsa Israel secara kolektif (mis. Kel. 4:22-23), juga pada raja Israel sebagai simbol perjanjian antara Allah dan umat-Nya (mis. Mzm. 2:7). Injil Matius menerapkan gelar ini kepada Yesus, tetapi dengan makna yang berbeda: Yesus adalah Anak Allah karena Dia memiliki hakikat ilahi. Mulai dari awal hingga akhir pelayanan Yesus, hal itu diungkapkan secara gamblang. Keilahian Yesus dinyatakan dalam kisah kelahiran-Nya ketika malaikat berkata kepada Yusuf bahwa anak yang berada dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus (Mat. 1:20). Saat Yesus dibaptis, Bapa sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya dengan berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17; juga dalam peristiwa transfigurasi, lih. Mat. 17:5). Berbagai pihak mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, termasuk para murid (Mat. 14:33), para lawan (Mat. 27:54), bahkan Iblis ketika mencobai Dia (Mat. 4:3,6). Karena sungguh Anak Allah, dalam istilah Petrus: “Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16), Yesus mempunyai kuasa yang sangat besar. Dengan memberitakan hadirnya Kerajaan Surga (Mat. 4:17), Yesus yang adalah Anak Allah sesungguhnya hendak mendamaikan dan membawa manusia kembali ke dalam persatuan dengan Allah yang adalah Bapa-Nya.

Selain gelar-gelar yang dikemukakan di atas, Injil Matius juga menyebut Yesus sebagai Anak Manusia (Mat. 8:20; 9:6), anak Daud (Mat. 1:1; 9:27), anak Abraham (Mat. 1:1), nabi (Mat. 13:57; 16:14; 21:11), raja (Mat. 2:2; 27:37), termasuk sebagai guru yang akan segera kita bahas secara khusus. Beragam gelar yang disandangkan pada Yesus tersebut menunjukkan bahwa Dia lebih besar dari apa pun yang bisa kita pahami tentang-Nya. Tidak ada satu gelar pun yang secara memadai dapat menggambarkan keseluruhan diri Yesus: Dia ini nabi tetapi lebih dari sekadar nabi, Dia ini raja tetapi lebih dari sekadar raja, begitu pula dengan julukan-julukan lainnya. Bagaikan sebuah mosaik, apa yang kita ketahui tentang Yesus adalah kepingan-kepingan kecil yang perlu disatukan dan dilihat secara keseluruhan sebagai sebuah gambaran besar apabila kita ingin mengenal diri-Nya secara utuh.

Meskipun beragam, gelar-gelar tersebut memiliki benang merah yang menghubungkan semuanya, yakni kuasa. Kuasa boleh dibilang merupakan kata kunci untuk seluruh penggambaran akan Yesus dalam Injil Matius. Sebagai Anak Allah, Yesus penuh kuasa, sebab, “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat. 11:27). Sebagai Mesias, kuasa Yesus tampak dalam tindakan-Nya mengusir setan dan roh-roh jahat “dengan sepatah kata” (Mat. 8:16), sesuatu yang tidak dinyatakan dalam Injil Markus yang merupakan sumber dari kisah ini (Mrk. 1:34). Sebagai Anak Manusia, Yesus memiliki kuasa untuk menentukan apakah seseorang diterima dalam Kerajaan Surga atau tidak (Mat. 25:31-46). Amanat agung yang ada di penghujung Injil Matius merangkum semuanya itu, dimana Yesus menyatakan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat. 28:18). Inilah penegasan dari Injil Matius bahwa Yesus memiliki kuasa yang mutlak dari Allah, yang mencakup segalanya. Ketika memandang Yesus dalam Injil Matius, sesungguhnya kita sedang berjumpa dengan wajah Allah.

Yesus adalah Seorang Guru

Pelayanan Yesus di tengah-tengah umat tidak berlangsung lama, kemungkinan hanya sekitar dua sampai tiga tahun saja. Meskipun demikian, banyak hal telah dilakukan-Nya, salah satunya yang paling menonjol adalah memberikan pengajaran. Hal ini tidak luput dari pengamatan penulis Injil Matius, sehingga sosok Yesus sebagai guru juga ditampilkan olehnya. Masyarakat melihat Yesus sebagai guru (Mat. 9:11; 17:24), menyapa-Nya secara langsung demikian (Mat. 8:19; 12:38; 22:16,24,36), bahkan dengan istilah dalam bahasa Ibrani, yakni rabi (Mat 26:25,49). Bahwa Yesus sungguh seorang guru tampak dalam pengajaran-pengajaran yang disampaikan-Nya di berbagai tempat, antara lain di rumah-rumah (Mat. 9:10), di rumah ibadat (Mat. 4:23), di Bait Allah (Mat. 21:23), di jalan (Mat. 12:1), di tepi danau (Mat. 13:1-3), juga di bukit (Mat. 5:1). Mengajar kiranya merupakan bentuk pelayanan yang penting bagi Yesus, sehingga kapan pun ada kesempatan, tanpa segan Ia akan memberikannya kepada orang-orang yang dijumpai-Nya.

Guru seperti apakah Yesus, dan apa yang diajarkan-Nya? Perlu diketahui bahwa rabi menjadi suatu jabatan resmi baru dalam Yudaisme modern yang berkembang setelah kehancuran Bait Allah tahun 70. Pada saat itu, gerakan rabinik tumbuh dengan pesat, lebih sistematis dari sebelumnya dengan munculnya lembaga-lembaga yang menghimpun para rabi, sehingga sangat mapan dan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Berbeda dengan itu, pada masa Yesus, guru atau rabi adalah sebuah gelar kehormatan. Siapa pun bisa disapa sebagai rabi sejauh masyarakat memandang dirinya istimewa, terpelajar, mumpuni, atau berhikmat. Contohnya adalah para ahli Taurat dan orang Farisi yang secara umum disebut rabi (Mat. 23:2-7), serta Yohanes Pembaptis yang disapa rabi oleh para muridnya (Yoh. 3:26).

Yesus pun demikian. Dia adalah rabi bukan karena menjadi bagian dari apa yang kemudian disebut kaum rabinik, juga bukan karena mengajarkan hukum Taurat setelah tuntas mempelajarinya secara formal di sekolah. Orang banyak memandang Yesus sebagai rabi karena kuasa dan karisma-Nya yang sangat besar (Mat. 7:28-29). Sebagai guru, Yesus kiranya lebih menyerupai guru-guru kebijaksanaan dalam tradisi hikmat Yahudi. Hal ini tampak misalnya dalam pengajaran-Nya yang berdasarkan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari (Mat. 16:1-4), ajaran-ajaran yang berbentuk perumpamaan (Mat. 13:1-23), penekanan pada pentingnya hati yang murni (Mat. 23:25-28), serta ajakan untuk takut akan Allah (Mat. 10:28). Bukan berarti tidak mengajarkan hukum Taurat sama sekali, dalam hal ini Yesus berbeda dengan para ahli Taurat, sebab Ia mengajak orang untuk memahami makna sejati hukum Taurat sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah, alih-alih terpaku pada kata demi kata yang tertera di dalamnya. Itulah yang dimaksudkan-Nya ketika berkata, “Janganlah menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17).

Yang unik dalam Injil Matius, meskipun Yesus sendiri juga melihat diri-Nya sebagai guru (Mat. 23:8; 26:18), hampir semua murid tidak pernah ditampakkan menyapa-Nya demikian. Yesus disapa sebagai guru oleh orang-orang di luar kelompok mereka (Mat. 17:24), para lawan dan orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya (Mat. 9:11; 12:38; 22:16,24,36), serta Yudas, murid yang kemudian mengkhianati-Nya (Mat 26:25,49). Hal ini kiranya sengaja dilakukan oleh penulis Injil Matius, dan bukan tanpa makna. Orang-orang itu menyebut Yesus sebagai guru karena memandang Dia sebagai guru biasa. Bagi mereka, Yesus adalah seorang guru dan tidak lebih dari itu. Lagi pula, mereka kemudian menyebut Yesus sebagai “si penyesat” (Mat. 27:63), yang berarti memandang-Nya sebagai guru palsu. Berbeda dengan itu, murid-murid Yesus mengenal Dia dengan lebih baik. Dia ini guru tetapi lebih dari sekadar guru. Bagi murid-murid yang sejati dan orang-orang yang percaya kepada-Nya, Yesus melampaui para guru pada umumnya, sebab Dia ini adalah Tuhan. Begitulah mereka menyapa diri-Nya (Mat. 8:25; 9:28; 14:28; 17:4).

Persamaan dan Perbedaan Yesus dengan Guru-guru Lainnya

Sebagai seorang guru, Yesus memiliki persamaan dengan guru-guru Yahudi lain pada zaman-Nya. Sebagaimana lazimnya seorang rabi, Ia pun mengenal baik dan sangat akrab dengan Kitab Suci yang dalam Injil Matius disebut sebagai “hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12; 22:40). Isi kitab-kitab tersebut sering dikutip oleh-Nya dan menjadi dasar dari ajaran-ajaran-Nya (mis. Mat. 4:1-11; 21:12-13). Salah besar kalau ada yang mengatakan bahwa Yesus menolak Taurat, sebab Ia sendiri menegaskan tentang pentingnya hukum Taurat (Mat. 5:18). Penerapan hukum ilahi secara nyata yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari yang benar, adil, bermoral, saleh, dan etis (mis. Mat. 5:7-9) juga tidak khas Yesus, sebab guru-guru yang lain pun memperhatikan hal itu. Termasuk di dalamnya adalah cara Yesus mengajar yang menggunakan metode tanya jawab (Mat. 16:13-16), teka-teki (Mat. 22:41-46), perumpamaan (mis. Mat. 13:24-30), dan pernyataan-pernyataan hiperbolis (Mat. 5:29-30). Para rabi sering menggunakan metode-metode tersebut untuk menggugah dan menarik perhatian para pendengar, terutama agar mereka merenungkan pesan-pesan yang disampaikan dan meresapkannya dalam hati.

Seperti para rabi lainnya, Yesus juga memiliki kelompok murid yang mengikuti Dia, mendengarkan ajaran-ajaran-Nya, dan meneladan cara hidup-Nya (Mat. 10:1-4). Yesus pun mengajar para murid dan orang banyak di tempat dimana guru-guru Yahudi lain biasa memberikan pengajaran, seperti di rumah-rumah ibadat, di Bait Allah, dan di ruang-ruang publik lainnya. Konfrontasi yang terjadi antara Yesus dan kelompok-kelompok lain, misalnya orang Farisi dan orang Saduki, juga bukan sesuatu yang khas. Para rabi sering berdebat dan terlibat pertentangan satu sama lain mengenai pandangan teologis dan penafsiran akan Kitab Suci. Namun, dalam hal ini, kiranya perlu dicatat bahwa pertentangan antara Yesus dan orang Farisi di sini lebih mencerminkan situasi jemaat yang dituju oleh Injil Matius. Pada masa itu, jemaat yang adalah orang Kristen Yahudi sedang mengalami ketegangan dengan orang Farisi yang kedudukannya makin kuat, tetapi tidak menunjukkan sikap bersahabat ter-hadap mereka.

Meskipun begitu, setiap guru pasti memiliki keunikan atau karakteristik tersendiri dalam hal kepribadian, gaya mengajar, maupun isi pengajaran. Yesus pun demikian. Di tengah berbagai persamaan di atas, Injil Matius menunjukkan kekhasan Yesus yang menjadi pembeda diri-Nya dengan para rabi yang lain. Di tempat pertama dapat disebutkan tindakan Yesus yang memanggil orang-orang tertentu untuk menjadi murid-murid-Nya yang terdekat (Mat. 4:18-22; 10:1-4). Ini sesuatu yang berbeda, sebab biasanya para calon muridlah yang mencari dan mendekati seorang guru, lalu melamar untuk menjadi muridnya. Yesus membalikkan hal itu dengan menjadi pihak yang mengambil inisiatif. Dengan memanggil, ditekankan kuasa Yesus untuk mengajak para murid mengikut Dia, bukan sekadar mendengarkan ajaran seperti yang terjadi pada murid para rabi yang lain. Panggilan Yesus adalah sesuatu yang radikal, sebab menuntut para murid untuk mengutamakan Dia di atas segala sesuatu (Mat. 10:37-39). Yesus adalah guru yang lebih dari sekadar guru. Dia bukanlah guru biasa atau guru pada umumnya, sebab memiliki kuasa ilahi untuk memanggil orang agar terlibat dalam misi pewartaan Kerajaan Surga.

Para rabi umumnya menetap. Mereka mengajar di tempat tertentu yang sama dari waktu ke waktu, antara lain di rumah ibadat atau di rumah mereka sendiri, dan hanya berpindah ke tempat lain ketika diundang untuk mengajar di situ. Murid-murid datang kepada mereka, tinggal bersama mereka, dan belajar kepada mereka selama beberapa waktu. Berbeda dengan guru-guru tersebut, Yesus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain dalam mengajar dan memberitakan Injil (Mat. 4:23). Ini menunjukkan gaya pengajaran yang proaktif, dimana alih-alih menunggu orang datang kepada-Nya, Yesuslah yang justru datang kepada mereka. Dengan berkeliling, Yesus bermaksud menjangkau semua kalangan, terutama mereka yang selama ini diabaikan dan dipinggirkan. Inilah penegasan bahwa tidak seorang pun luput dari perhatian dan belas kasihan Allah. Cara Yesus ini sekaligus menjadi simbol bahwa kabar baik yang diwartakan-Nya bersifat universal, tidak terbatas pada tempat atau kelompok tertentu saja. Kelak, para murid diminta untuk meneladan Dia dengan pergi dan menjadikan segala bangsa sebagai murid-Nya (Mat. 28:19).

Dalam mengajarkan sesuatu, seorang rabi biasanya mengutip perkataan rabi-rabi besar yang tampil sebelumnya supaya apa yang diajarkannya itu diterima dan diyakini kebenarannya oleh para murid. Kuasa rabi tersebut dengan demikian bersumber dan bergantung pada kuasa rabi lain yang lebih besar darinya. Ini seperti kita yang ketika berbicara sering merujuk pada pandangan dan perkataan tokoh-tokoh terkenal supaya apa yang kita sampaikan menjadi terasa berbobot dan dipercaya oleh orang-orang yang mendengarkan kita. Berbeda dengan itu, Yesus mengajar dengan kuasa yang ada pada diri-Nya sendiri, alih-alih bergantung pada tradisi atau pandangan orang lain. Hal ini tampak dalam ungkapan “sesungguhnya Aku berkata kepadamu” yang sangat sering dikatakan Yesus untuk mengawali pengajaran-Nya (mis. Mat. 10:15,23,42). Dalam ungkapan itu terkandung makna bahwa yang diajarkan Yesus adalah kebenaran yang pasti, sebab berasal dari Yesus sendiri yang adalah sumber kebenaran. Kuasa Yesus sangat besar mengingat relasinya-Nya yang khusus dengan Bapa. Bapa mengehendaki agar semua orang mendengarkan Yesus, sebab Dia adalah Anak-Nya yang terkasih (Mat. 17:5).

Pengutipan atas hukum Taurat yang dilakukan Yesus tidak bisa disamakan dengan yang dilakukan para rabi yang lain. Sementara para rabi biasanya mengutip hukum Taurat, menafsirkannya, lalu mendesak orang-orang untuk menaati hukum tersebut sesuai dengan tafsiran itu, yang dilakukan Yesus adalah menggenapinya (Mat. 5:17). Menggenapi artinya, di balik kata demi kata yang membentuk suatu ketentuan, Yesus memahami apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah dengan ketentuan tersebut dan memenuhinya dengan sempurna. Mengenai larangan untuk membunuh (Kel. 20:13), Yesus paham bahwa yang dikehendaki Allah bukan sekadar tidak menghilangkan nyawa orang lain secara tidak adil, melainkan juga lenyapnya kemarahan dan kebencian dalam hati manusia (Mat. 5:21-26). Mengenai hukum Sabat (Ul. 5:12-15), Yesus paham bahwa yang dikehendaki Allah bukanlah agar manusia tidak melakukan apa-apa pada hari itu, melainkan agar mereka semua merasakan kasih dan kemerdekaan yang dianugerahkan oleh-Nya. Karena itu, dalam pengajaran-Nya, Yesus sering mengutip hukum Taurat, lalu berkata, “Namun, Aku berkata kepadamu” (Mat. 5:31-32,33-34). Bukan bermaksud mempersalahkan hukum tersebut, Yesus dengan berkata demikian hendak mengoreksi tafsiran atau pemahaman yang keliru, yang bisa menjauhkan manusia dari Allah. Yesus dengan itu juga mengkritik orang-orang yang mau gampangnya saja, sehingga enggan menggali makna hukum Taurat secara lebih mendalam. Sikap tersebut justru merugikan hukum Taurat sendiri, sebab membuat orang gagal untuk mencapai tujuan sejati dari hukum itu, yakni kasih terhadap Allah dan sesama dengan sepenuh hati (Mat. 22:34-40).

Mukjizat yang dilakukan Yesus juga menjadi pembeda antara diri-Nya dan guru-guru Yahudi yang lain. Beberapa rabi mungkin tergolong istimewa, sebab selain mengajar dengan baik, mereka juga pendoa yang baik, yang menunjukkan kedekatan relasi mereka dengan Allah. Namun, Yesus unggul atas semuanya dengan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, dimana dengan itu Ia menunjukkan kuasa-Nya atas alam (Mat. 8:23-27), memenuhi kebutuhan manusia (Mat. 14:13-21), menyembuhkan orang-orang sakit (Mat. 4:23-25), dan mengusir setan (Mat. 8:28-34). Sebagai guru, Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata. Pengajaran-Nya disertai dengan tanda-tanda ilahi yang merupakan bagian dari kuasa yang dimiliki-Nya. Berkaitan dengan ini, patut juga dicatat mengenai konsistensi antara perkataan dan perbuatan Yesus. Tidak sekadar mengajarkan, Yesus sendiri melaksanakan semua yang diajarkan-Nya dengan integritas penuh. Kesediaan untuk menderita dan memanggul salib sampai mati menjadi bukti yang tak terbantahkan. Yesus sungguh berbeda dengan guru-guru Yahudi lain, yang sering kali tahu mengajar, tetapi tidak tahu melaksanakan apa yang mereka ajarkan (Mat. 23:3).

Guru yang Penuh Kuasa, Guru yang Seperti Musa

Sebagaimana gelar-gelar Yesus, ciri khas Yesus sebagai guru dalam Injil Matius memiliki benang merah yang sama, yakni penekanan akan kuasa-Nya yang besar. Yesus adalah guru yang penuh kuasa. Karena penuh kuasa, Yesus memanggil orang untuk menjadi murid-Nya (Mat. 10:1-4), memberi tuntutan agar mereka mengutamakan Dia (Mat. 10:37-39), serta mengutus mereka untuk melakukan dan mengajarkan segala sesuatu yang telah Ia perintahkan (Mat. 28:20). Karena penuh kuasa, Yesus tidak hanya mengajar dengan baik, tetapi juga menyertai pengajaran-Nya dengan berbagai tindakan yang mengagumkan (Mat. 4:23). Karena penuh kuasa pula, alih-alih sekadar menuntut orang untuk menaati hukum Taurat, Yesus menggenapi hukum tersebut dan mengajarkan pelaksanaannya sesuai dengan maksudnya yang sejati, yakni yang dikehendaki Allah (Mat. 5:27-30).

Kuasa Yesus diakui oleh orang-orang yang menyaksikan dan mendengarkan pengajaran-Nya. Injil Matius menyatakan ini sejak awal, yakni setelah orang banyak mendengarkan khotbah di bukit: “Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29; bdk. Mat. 22:33). Orang-orang itu melihat Yesus sebagai guru yang penuh kuasa, istimewa, berwibawa, dan tak tertandingi oleh guru-guru Yahudi yang lain. Mereka takjub kepada-Nya.

Berkaitan dengan sosok Yesus sebagai guru dan kuasa-Nya yang besar dalam menggenapi hukum Taurat, bisa dirasakan bahwa Injil Matius dengan itu juga bermaksud menampilkan Yesus sebagai Musa yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah berfirman kepada Musa, “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” (Ul. 18:18). Janji Allah tersebut digenapi dalam diri Yesus. Dialah nabi seperti Musa; Dialah Musa yang kedua; Dialah Musa yang baru. Penyejajaran Yesus dengan Musa terlihat jelas dalam Injil Matius, sehingga kita sebagai pembaca dapat merasakan relasi yang erat di antara keduanya. Sebagaimana Musa lahir ketika bangsa Israel ditindas oleh firaun yang kejam (Kel. 1:8-14), Yesus lahir dalam suasana penjajahan yang mempri-hatinkan. Tindakan Herodes memerintahkan pembunuhan terhadap anak-anak di Betlehem (Mat. 16-18) mengingatkan pada tindakan firaun yang memerintahkan pembunuhan terhadap setiap bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan Ibrani (Kel. 1:15-22). Musa menerima sepuluh firman Allah dan hukum Taurat di Gunung Sinai (Kel. 19:1-6), sehingga sejajar dengan itu, Yesus pun menyampaikan sabda-sabda bahagia dan pengajaran-Nya yang paling mendasar di atas sebuah bukit (Mat. 5:1 – 7:29).

Meskipun demikian, Musa yang baru bagaimanapun lebih unggul daripada Musa yang lama. Sementara Musa hanya meneruskan apa yang difirmankan Allah di Gunung Sinai kepada bangsa Israel, Yesus di bukit itu menyampaikan firman-firman dari diri-Nya sendiri kepada orang-orang yang mendengarkan-Nya. Dengan cara ini, Injil Matius menegaskan bahwa Yesus adalah guru yang mengajarkan hukum ilahi yang sempurna dan yang akan menuntun umat dalam perjanjian dengan Allah yang telah diperbarui oleh-Nya.

Lima Kumpulan Pengajaran Yesus

Penggambaran tentang Yesus sebagai Musa yang baru juga tampak dalam pembagian Injil Matius menjadi lima bagian. Seperti telah kita lihat bersama di atas, di bagian ciri khas Injil Matius, Injil ini dapat dibagi menjadi lima bagian besar, yakni awal pelayanan Yesus di Galilea (Mat. 3:1 – 7:29), mukjizat dan kemuridan (Mat. 8:1 – 10:42), pernyataan tentang Yesus dan Kerajaan Surga (Mat. 11:1 13:52), Mesias dan jemaat-Nya (Mat. 13:53 – 18:35), serta perjalanan ke Yerusalem dan pelayanan Yesus di kota itu (Mat. 19:1 – 25:46). Kelima bagian itu diawali oleh kisah masa kanak-kanak Yesus sebagai pengantar (Mat. 1:1 – 2:23), dan diakhiri oleh kisah sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus, serta misi pengutusan dari-Nya, sebagai klimaks sekaligus penutup (Mat. 26:1 – 28:20). Tanda yang menjadi pembatas bagian yang satu dengan bagian lainnya adalah kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan itu” yang ada di akhir atau awal suatu bagian (bunyinya tidak selalu persis sama, lih. Mat. 7:28; 11:1; 13:53; 19:1; 26:1), yang juga muncul dalam kitab Taurat berkaitan dengan Musa (Ul. 32:45). Karena itu, pembagian ini kiranya merujuk pada Taurat Musa yang terdiri atas lima kitab (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan), bermaksud menggarisbawahi kesejajaran Yesus dengan Musa, serta bisa jadi pula menunjukkan upaya penulis Injil Matius untuk menyajikan Injilnya sebagai Taurat yang baru.

Penulis Injil Matius mendesain Injilnya sedemikan rupa, sehingga masing-masing bagian tersebut terdiri atas narasi dan pengajaran. Karena kita sedang bermaksud mendalami sosok Yesus sebagai seorang guru yang penuh kuasa, dalam kesempatan ini yang menjadi perhatian kita adalah bagian pengajaran. Pembagian Injil Matius menjadi lima bagian membuat Injil ini juga memiliki lima kumpulan pengajaran Yesus, yakni khotbah di bukit (Mat. 5:1 – 7:29), khotbah pengutusan (Mat. 10:1-42), perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Surga (Mat. 13:1-52), ajaran-ajaran untuk membina jemaat (Mat. 18:1-35), dan khotbah tentang akhir zaman (Mat. 23:1 – 25:46).

Kumpulan pengajaran yang pertama: Khotbah di bukit (Mat. 5:1 7:29). Sejajar dengan Musa yang naik ke Gunung Sinai untuk menerima sepuluh firman Allah, Yesus naik ke atas bukit untuk menyampaikan pengajaran perdana-Nya. Pengajaran ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni sabda-sabda bahagia (Mat. 5:1-12) dan cara hidup murid-murid Yesus yang sejati (Mat. 5:13 – 7:27). Sabda-sabda bahagia berfungsi sebagai pengantar, sekaligus dasar bagi tuntutan-tuntutan radikal yang dikemukakan Yesus selanjutnya, yang harus ditepati oleh siapa saja yang mau menjadi pengikut-Nya. Mereka antara lain dituntut agar menjadi garam dunia dan terang dunia, mampu mengekang kemarahan, mengasihi musuh, dan sebagainya.

Kumpulan pengajaran yang kedua: Khotbah pengutusan (Mat. 10:1-42). Pengajaran ini khususnya ditujukan kepada kedua belas murid Yesus. Yesus yang memanggil mereka sekarang mengutus mereka untuk ambil bagian dalam misi yang dikerjakan-Nya, yakni “memberitakan Injil Kerajaan dan menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat. 9:35). Agar para murid berhasil dalam menjalankan misi tersebut, Yesus memberi mereka kuasa, nasihat-nasihat, serta peringatan tentang risiko yang akan mereka hadapi. Yesus juga menjanjikan ganjaran dan penyertaan bagi para murid yang setia kepada-Nya sampai akhir.

Kumpulan pengajaran yang ketiga: Perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Surga (Mat. 13:1-52). Yesus di sini menyampaikan ajaran tentang Kerajaan Surga dalam bentuk perumpamaan (untuk menunjukkan rasa hormat terhadap Allah, Kerajaan Allah disebut sebagai Kerajaan Surga dalam Injil Matius). Melalui perumpamaan-perumpamaan itu, rahasia Kerajaan Surga disingkapkan oleh Yesus. Kerajaan Surga antara lain digambarkan sebagai benih yang jatuh di atas berbagai jenis tanah, gandum yang tumbuh di antara lalang, biji sesawi dan ragi yang kecil, dan sebagainya. Para pendengar diharapkan pada akhirnya menyadari bahwa Kerajaan Surga adalah anugerah yang sangat besar dari Bapa bagi manusia. Hendaknya mereka menyadari, membuka diri, dan menyambut kehadirannya dengan gembira.

Kumpulan pengajaran yang keempat: Ajaran-ajaran untuk membina jemaat (Mat. 18:1-35). Konteks dari kumpulan pengajaran ini adalah kesadaran bahwa Yesus tidak bisa terus-menerus berada di sisi murid-murid-Nya, sebab Ia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Ada saatnya nanti Ia tidak bisa lagi menjaga para murid secara langsung, sehingga mereka harus mulai belajar hidup mandiri. Untuk itu, Yesus menasihati para murid dan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Masing-masing harus bersikap rendah hati seperti seorang anak kecil. Mereka juga hendaknya saling menjaga satu sama lain, yakni dengan saling mengampuni, tidak bersikap menang sendiri, tidak menyesatkan orang lain, dan kalau ada di antara mereka yang salah jalan, orang itu sedapat mungkin harus diajak untuk kembali.

Kumpulan pengajaran yang kelima: Khotbah tentang akhir zaman (Mat. 23:1 – 25:46). Pengajaran tentang akhir zaman disampaikan Yesus di Yerusalem ketika saat-saat akhir bagi-Nya sudah mendekat. Mula-mula, Yesus mengecam keras kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi yang lebih mementingkan penampilan lahiriah, alih-alih keadilan dan belas kasihan. Ia lalu meratapi Yerusalem yang menolak kehadiran para nabi dan akan mengalami kehancuran. Setelah itu, Yesus berbicara tentang akhir zaman, yang mana Dia mendorong para murid untuk berjaga-jaga dan siap sedia menyambut kedatangan Anak Manusia yang waktunya tidak terduga. Saat kedatangan Anak Manusia adalah sekaligus saat dilangsungkannya penghakiman terakhir. Manusia akan dihakimi berdasarkan sikap mereka terhadap Anak Manusia, yang terwujud secara nyata dalam sikap mereka terhadap sesama.

Para Murid dalam Injil Matius

Keberadaan lima kumpulan pengajaran Yesus dalam Injil Matius menjadi pertanda bahwa penulis Injil ini bermaksud menonjolkan Yesus sebagai guru, sehingga dengan sendirinya memberi perhatian khusus pada pengajaran. Bandingkan pernyataan Injil Markus bahwa Yesus datang ke Galilea untuk memberitakan Injil Allah (Mrk. 1:14) dengan pernyataan serupa dalam Injil Matius bahwa ketika Yesus berkeliling di seluruh Galilea, “Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan…” (Mat. 4:23). Mengajar menjadi salah satu agenda utama pelayanan Yesus di tengah-tengah manusia, sehingga perlu disebutkan secara tersendiri.

Sebagai seorang guru, Yesus tentu punya harapan kepada para murid-Nya. Yang kiranya paling diharapkan Yesus dari murid-murid-Nya adalah agar mereka mengerti. Lebih dari sekadar mendengar, para murid diharapkan mengerti segala sesuatu yang diajarkan Yesus (Mat. 13:23), melaksanakannya dengan sungguh dalam kehidupan sehari-hari (Mat. 12:50), dan meneruskan ajaran-ajaran itu kepada orang lain (Mat. 28:20). Pentingnya untuk mengerti ditekankan oleh Yesus, misalnya ketika Ia mengajar tentang hukum Sabat. Mengawali penegasan-Nya bahwa yang dikehendaki Allah adalah belas kasihan dan bukan persembahan, Yesus berkata, “Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini” (Mat. 12:7). Ketika mengajarkan Kerajaan Surga dengan perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus juga berkata, “Yang ditaburkan di tanah yang baik artinya orang mendengar firman itu dan mengerti” (Mat. 13:23). Pengertian adalah karunia yang diberikan Allah kepada murid-murid Yesus untuk mengetahui rahasia-rahasia Kerajaan Surga, sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan (Mat. 13:11; bdk. Mat. 11:25; 13:19).

Memenuhi harapan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah murid-murid yang sejati, para murid Yesus dalam Injil Matius digambarkan mengerti apa yang diajarkan oleh guru mereka. Setelah Yesus menceritakan perumpamaan tentang jala yang besar, misalnya. Ketika Ia bertanya kepada para murid apakah mereka mengerti akan apa yang diajarkan-Nya, dengan mantap mereka menjawab, “Ya” (Mat. 13:51). Juga ketika Yesus setelah peristiwa transfigurasi berbicara tentang kedatangan Elia. Para murid dikatakan mengerti bahwa Ia sedang berbicara tentang Yohanes Pembaptis (Mat. 17:13). Pengambaran ini kontras dengan yang ada dalam Injil Markus, dimana para murid tampak sering kali gagal memahami ajaran Yesus, bahkan setelah diberi penjelasan oleh-Nya (Mrk. 4:13; 8:17-21). Memang, dalam Injil Matius pun, para murid bergulat dalam panggilan mereka dan dalam usaha mereka untuk memahami pribadi serta ajaran-ajaran Yesus. Mereka terkadang tidak mengerti (Mat. 16:9,11) dan kurang percaya (Mat. 6:30; 8:26), sebab iman mereka belum sempurna. Namun, dengan bimbingan Yesus, dari hari ke hari mereka makin mengerti (Mat. 16:12) dan iman mereka pun makin diteguhkan (Mat. 14:33). Injil Matius dengan demikian menampilkan para murid Yesus sebagai murid-murid yang bisa dibanggakan.

Para murid mengikut Yesus karena dipanggil oleh-Nya. Panggilan ini menuntut mereka untuk tidak sekadar mendengarkan ajaran-Nya, tetapi juga meneladan keseluruhan hidup-Nya. Ini karena selain kata-kata, cara hidup Yesus adalah juga ajaran yang wajib mereka ikuti. Sebagaimana guru, demikianlah seharusnya muridnya. Karena itu, para murid diharapkan menjadikan Yesus sebagai acuan dan panutan mereka. Kesediaan Yesus untuk melayani, berbelaskasihan, berpihak kepada orang kecil, menyuarakan kebenaran dan keadilan, serta merendahkan diri dengan menanggung derita dan kematian merupakan undangan bagi murid-murid-Nya untuk menapaki jalan yang sama. Sebagai Gereja, murid-murid Yesus adalah umat Allah yang baru. Hendaknya mereka hidup sesuai dengan martabat luhur tersebut, yakni dengan menjadikan perkataan dan keteladanan Yesus sebagai pegangan dan pedoman dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya, Yesus berharap agar para murid menjadi perpanjangan tangan-Nya. Ia mengutus mereka untuk meneruskan tugas perutusan yang diemban-Nya dari Bapa. Kabar baik tidak boleh disimpan sendiri, tetapi harus diteruskan kepada yang lain, supaya makin banyak orang merasakan kasih sayang Allah. Untuk itu, dalam amanat agung yang menjadi penutup Injil Matius (Mat. 28:18-20), Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, untuk membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, serta untuk mengajarkan mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya kepada para murid. Seorang murid tidak lebih daripada gurunya (Mat. 10:24), dan para murid hendaknya tidak disebut rabi (Mat. 23:8). Ini merupakan pesan agar dalam mengajar, para murid jangan sampai meninggikan diri mereka dan merendahkan orang-orang yang mereka ajar. Mereka semua, baik yang mengajar maupun yang diajar, adalah saudara (Mat. 23:8). Para murid hendaknya mengantar orang-orang yang mereka ajar kepada satu-satunya orang yang layak disebut rabi, yakni Yesus sendiri, guru yang sejati, guru yang penuh kuasa, guru mereka bersama.

Jarot Hadianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar