Bukan islam namanya kalau tidak sibuk ngurusi agama lain. Hal ini sudah berakar dari aulohnya sendiri. Masalahnya mereka salah memahami sehingga kesimpulannya pun salah. Ini pun dilakukan auloh. Contohnya soal kutipan Kel. 2: 18, Bil 10: 29 dan Hak 4: 11. Seolah-olah ada kontradiksi di antara kutipan ini. Padahal sama sekali tidak ada masalah dalam kutipan tersebut, apalagi kontradiksi. Kesalahan terletak pada salah memahami Bil 10: 29. Kutipannya sebagai berikut: Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa ... Jika memahami Hobab sebagai mertua Musa, ini merupakan kesalahan memahami teks. Orang yang paham literasi tentulah melihat frasa mertua Musa dikaitkan dengan frasa sebelumnya, bukan lompat ke Hobab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar