Rabu, 25 Juni 2025
MARI MEMAHAMI QS 3: 24 DENGAN NALAR AKAL SEHAT
Senin, 23 Juni 2025
BAGAIMANA BERSIKAP SAAT UMAT MENOLAK
Ketika ditahbiskan, seorang imam
memiliki jabatan sebagai gembala. Umat adalah kawanan gembalaannya. Tentulah
sangat diharapkan agar seorang imam bisa menampilkan dirinya sebagai seorang
gembala yang baik, sebagaimana yang pernah diungkapkan Tuhan Yesus (lih. Yoh 10: 1 – 11) atau yang ditegaskan oleh Petrus
(lih. 1Ptr 5: 1 – 11).
Akan tetapi, tak bisa dipungkiri
bahwa tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Demikian pula seorang
gembala. Untuk menjadi gembala yang baik, sebagaimana yang diminta oleh Tuhan,
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada begitu banyak persoalan dan
perjuangan, baik itu menyangkut hal eksternal maupun internal diri gembala itu
sendiri.
Paus Fransiskus sendiri, pada
bulan Oktober 2014 lalu sudah menyatakan akan adanya gembala yang buruk, yang
hanya sibuk dengan kepentingan diri sendiri, menyangkut uang dan kekuasaan.
Sekalipun penuh dengan kelemahan dan kekurangan, bukan lantas berarti seorang
gembala menyerah begitu saja tanpa ada niat untuk perbaikan diri. Memang tidak
ada manusia yang sempurna, tapi setiap kita dipanggil kepada kesempurnaan.
Tuhan Yesus pernah bersabda, “… haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu
yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5: 48).
Adanya gambaran gembala yang
buruk inilah yang sering membuat domba memberontak. Kita dapat membagi
pemberontakan ini ke dalam dua kelompok. Pertama, pemberontakan
halus. Umat melakukan perlawanan secara diam. Tampil di permukaan seperti
tidak ada pergejolakan. Umat seakan mendengar apa yang dikatakan sang gembala,
namun dengan diam mengabaikannya. Perlahan-lahan umat enggan mengikuti kegiatan
menggereja, malas mengikuti ekaristi hari Minggu, dan menolak setiap kebijakan
sang gembala,
Sabtu, 21 Juni 2025
MELAWAN NARKOBA BERAWAL DARI DALAM KELUARGA
Dewasa kini masalah narkoba
cukup menyita perhatian kita. Masalah narkoba bukan hanya soal hukuman mati,
melainkan juga soal penyebaran, bahaya pemakaian, bisnis dan rusaknya moral
bangsa. Soal bahaya penyalahgunaan narkoba hampir semua kita sudah mengetahuinya.
Malah bisa dikatakan bahwa narkoba dapat merusak moral bangsa. Namun menjadi
pertanyaan kita, sekalipun sudah tahu berbahaya, kenapa penyebarannya kian
marak.
Ketika seorang dosen kedapatan
menggunakan narkoba, seakan kita sudah kehilangan pegangan. Dosen atau guru,
yang seharusnya memberikan contoh teladan baik bagi generasi muda, justru
terlibat dalam dunia haram ini. Dunia pendidikan sebagai benteng pertahanan
kaum muda dari serangan bahaya narkoba perlahan mulai runtuh.
Dari data yang ada, pengguna
narkoba terbesar berasal dari kalangan kaum muda dan remaja. Mereka umumnya
masih berada di bangku pendidikan. Karena itu, jika lembaga pendidikan saja
sudah tercemar dengan benda haram ini, lantas kepada siapa kita berharap?
Apakah kepada polisi? Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada begitu banyak polisi
juga terlibat dalam bisnis haram ini. Bandingkan saja dengan kisah mafia
narkoba di Amerika dalam film The American Gangster. Memang seperti
film itu, kita juga tentu berharap masih ada polisi bersih.
Bukan berarti kita meremehkan
polisi atau Badan Narkotika Nasional (BNN), atau lembaga-lembaga lain. Kita
masih bisa berharap kepada mereka (mengharapkan hadirnya polisi bersih). Akan
tetapi, janganlah menggantungkan pengharapan itu hanya kepada mereka saja.
Keluarga hendaknya menjadi benteng pertahanan terakhir melawan gempuran bahaya
narkoba ini.